Showing posts with label Kesenian. Show all posts
Showing posts with label Kesenian. Show all posts
Sunday, October 8, 2017
Moammar Emka
Moammar Emka lahir di Tuban, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 1974; umur 43 tahun). Moammar Emka adalah penulis puluhan buku. Namun buku tulisannya yang paling laris dan mengangkat namanya adalah "Jakarta Undercover".
Buku ini menceritakan sisi gelap kehidupan seks 'liar' yang ada di kota Jakarta. Buku ini juga mengalami cetak ulang sebanyak 55 kali dari 2003-2010. Selain itu juga dilakukan gubahan dalam bentuk bahasa Inggris dan Belanda yang dipasarkan di kota-kota besar Asia, dan Eropa, Buku tersebut juga telah mengalami cetak ulang beberapa kali.
Karya itu kemudian diangkat ke dalam cerita film layar lebar berjudul "Jakarta Undercover", dengan dibintangi Luna Maya, Fachry Albar, Lukman Sardi, Christian Sugiono, dan Fauzi Baadila yang diproduksi dan beredar 2006.
Emka menulis buku-bukunya dengan investigasi secara mendalam selama bertahun-tahun. Berbagai metode pun dia gunakan untuk mendapatkan informasi seperti pendekatan personal, clubbing, nongkrong bareng, curhat, sampai wawancara.
Buku tulisan Emka kebanyakan mengupas sisi seksualitas yang terjadi di masyarakat, seperti "Siti Madonna", "Jakarta Undercover 2 (Karnaval Malam)","Jakarta Undercover 3 (Forbidden City)", "Ade Ape Dengan Mak Erot?", "3 Cinta 2 Selingkuhan", dan "In Bed with Models".
Buku In Bed with Models dirilis pertengahan 2006 dan edisi revisinya dirlis akhir 2014, yang mengisahkan lika-liku sisi gelap para selebriti Indonesia dalam mencari 'pendapatan tambahan' dengan 'menceburkan diri' dalam transaksi seks kelas atas.
Selain itu, Emka juga menulis beberapa novel adaptasi film seperti "Tentang Dia", "Love", "Maaf Saya Menghamili Istri Anda", "Love is Cinta", "Sang Dewi", dan "Slank Nggak Ada Matinya". Tak ketinggalan, Emka juga menulis buku-buku bergenre romantis seperti "Beb Aku Sakau", "Cinta Daur Ulang", "Cinta Itu Kamu", "Dear You", I DO, dan "Dear You Again".
Selain menulis, Emka juga pernah tampil sebagai cameo di film "Koper" garapan sutradara Richard Oh, "Novel Tanpa Huruf R" dengan sutradara John de Rantau, "Claudia Jasmine" sutradara Awi Suryadi dan tiga film: "Cinta Brontosaurus", "Cinta Selamanya", "Gangster" yang disutradarai Fajar Nugros. Saat ini, Emka juga aktif di televisi dengan menjadi nara sumber untuk acara-acara yang bertemakan selebritas dan gaya hidup.
Melalui Grafent Pictures yang bekerjasama dengan Demi Istri Production, Emka merilis film Moammar Emka's JAKARTA UNDERCOVER pada 23 Februari 2017 yang disutradarai Fajar Nugros. Emka sendiri bertindak sebagai Eksekutif Produser.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Moammar_Emka
http://lirik-lagu-dunia.blogspot.co.id/2015/04/lirik-lagu-permisi-moammar-emka-ost-i.html
Koes Plus
'Koesyono' Koeswoyo lahir di Tuban, Jawa Timur pada tanggal 27 September 1940 adalah anggota band legendaris Indonesia, Koes Plus yang sebelumnya bernama Koes Bersaudara.
Yon Koeswoyo adalah anak keenam dari sembilan bersaudara anak dari pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini asal Tuban Jawa Timur. Urutannya adalah :
No.1. Tituk (perempuan), meninggal waktu bayi.
No.2. Koesdjono (Jon alias John Koeswoyo)
No.3. Koesdini (Dien ~ perempuan),
No.4. Koestono (Ton alias Tonny Koeswoyo),
No.5. Koesnomo (Nom alias Nomo Koeswoyo),
No.6. Koesyono (Yon alias Yon Koeswoyo),
No.7. Koesroyo (Yok alias Yok Koeswoyo),
No.8. Koestami (Miyi ~ perempuan),
No.9. Koesmiani (Ninuk ~ perempuan).
Dari silsilah keluarga, mereka termasuk generasi ke 7 keturunan (trah) Sunan Muria di Tuban. Ibu mereka adalah keponakan dari Bupati Tuban pada zaman penjajahan Belanda saat itu.
Masa kecil Yon dilalui di kota Tuban, Jawa Timur bersaudara saudara-saudaranya. Tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta mengikuti mutasi Sang ayah berkarier hingga pensiun sebagai pegawai negeri di Kementrian Dalam Negeri.
Yon Koeswoyo mulai aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara kandungnya keluarga Koeswoyo yakni : (Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, Nomo Koeswoyo pada drum, Yon Koeswoyo pada vokal, dan Yok Koeswoyo pada vokal) dan seorang dari luar keluarga Koeswoyo yang bernama Jan Mintaraga sebagai gitaris awalnya.
Pada mulanya mereka menamakan grup ini Kus Brothers pada tahun 1958. Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twin, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini meniru pola Everly Brothers di Amerika, karena menggunakan 2 penyanyi kakak beradik yakni Yon dan Yok.
Mereka merekam album pertama pada tahun 1962. Setelah Jan Mintaraga mengundurkan diri, grup ini berganti nama menjadi Kus Bersaudara pada tahun 1963.
Beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun mengundurkan diri, sehingga menyisakan 4 personel kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Grup ini kemudian kembali mengganti namanya menjadi Koes Bersaudara.
Dalam formasi yang baru ini Yon tetap sebagai penyanyi utama disamping memegang alat musik rhythm gitar, disamping adiknya Yok yang juga masih menjadi penyanyi dengan memegang alat musik bass gitar.
Yon memang sejak awal diproyeksikan oleh Tonny untuk menjadi vokalis karena memiliki suara yang bagus. Karena itulah ia tak pernah secara khusus diajari oleh Tonny untuk memainkan alat musik gitar. Kemampuannya bermain gitar dipelajarinya sendiri secara otodidak dengan mengamati permainan gitar abangnya Tonny.
Grup ini meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965.
Yon dimasukkan satu sel bersama saudara-saudaranya, Tony, Nomo, dan Yok. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu karena dianggap musik yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia pada tahun 1965.
Namun Sebenarnya Pemenjaraan ini bertujuan untuk persiapan Bela Tanah Air saat terjadinya perselisihan dengan malaysia, saat presiden Soekarno menyatakan ganyang malaysia lewat seni permusikan. Pada Awalnya untuk dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, Bahkan Malaysia. Namun sebelum sempat dikirim untuk bela negara lewat permusikan, pemerintahan Soekarno telah lengser.
Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI) dan tidak jadi dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, dan Malaysia. Selepas itu karier bermusik mereka kembali berjalan.
Meski meraih kesuksesan dalam bermusik, namun kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan ekonomi. Abangnya Nomo Koeswoyo berinisiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum pada tahun 1969.
Ia memilih berusaha sampingan di luar bidang musik sebagai pedagang untuk menghidupi keluarganya. Oleh Tonny Koeswoyo, Nomo disuruh memilih untuk fokus pada musik di Koes Bersaudara atau keluar. Nomo bersikap lebih pragmatis dan memiliki prinsip yang berbeda dengan sang kakak, karena saat itu ia telah menikah dan telah memiliki 1 orang anak.
Posisi drummer yang ditinggalkan Nomo Koeswoyo kemudian digantikan oleh Kasmuri (dikenal dengan panggilan Murry). Masuknya Murry adalah rekomendasi dari Yon kepada Tonny. Yon dikenalkan kepada Murry lewatnya temannya Tommy Darmo.
Oleh Tonny, posisi Yok kemudian diganti dengan Adji Kartono atau biasa disingkat Totok AR (Totok Adji Rahman). Yon tak mempermasalahkan Tonny merekrut Murry dan Totok AR menjadi anggota band di luar keluarga Koeswoyo.
Tonny pun kemudian mengubah nama bandnya menjadi Koes Plus. Meski terseok-seok dalam keterbatasan finansial dan harus menyewa alat musik, mereka berhasil mengeluarkan album Koes Plus volume I "Dhag-Dheg Plas". Dalam formasi band ini Yon tetap berperan sebagai vokalis utama.
Namun pada album kedua Koes Plus, adiknya Yok mengubah pikirannya dan bersedia bergabung dalam Koes Plus sebagai pemain bass dan backing vokal mendampingi Yon. Dalam album II ini nama Koes Plus mulai dikenal. Koes Plus perlahan meraih kepopuleran dan mulai menjadi raja di kalangan band nasional.
Nama Koes Plus mulai dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu "Derita" serta "Manis Dan Sayang", "Senja", "Cintamu Telah Berlalu" dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970.
Saat itu Yon bersama Koes Plus tampil bersama band Panbers dan beberapa band sohor lainnya seperti The Candies, band Bhajangkara,dan The Rhadows. Saat itu lagu-lagu Koes Plus mulai dipengaruhi warna sweet sound ala Bee Gees dan The Cats. Yon Koeswoyo sendiri bahkan tiba-tiba berupaya menghasilkan vibra seperti halnya Barry Gibb dari Bee Gees.
Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung, menggelegak, dan merajai industri musil Indonesia. Terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco.
Dalam catatan pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.
Periode 1970-an seolah menjadi era mereka. Lagu-lagu mereka hits di tangga lagu Indonesia, dinyanyikan semua umur, seperti "Bujangan", "Muda-Mudi", "Kembali ke Jakarta", dan lainnya. Bahkan group ini berhasil merilis lebih dari 100 album berbagai jenis aliran musik seperti Pop, Dangdut, Melayu, Keroncong, Jawa, Folksong, Rock, Bosanova, Qasidah, Rohani Natal, Pop Anak-anak, dsb.
Lagu-lagu mereka banyak yang menjadi hits yang melegenda sepanjang masa hingga saat ini. Mereka juga menjadi bintang iklan beberapa produk: minuman ringan F&N, mobil Toyota Kijang, sampul buku tulis, dsb.
Dalam Koes Plus, suara Yon memang dominan meski Yok, Tony, dan bahkan Murry juga tampil sebagai penyanyi. Vokal Yon mendominasi pada sebagian besar lagu kondang Koes Plus seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Diana, Hidup Yang Sepi, dsb.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Yon_Koeswoyo
Yon Koeswoyo adalah anak keenam dari sembilan bersaudara anak dari pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini asal Tuban Jawa Timur. Urutannya adalah :
No.1. Tituk (perempuan), meninggal waktu bayi.
No.2. Koesdjono (Jon alias John Koeswoyo)
No.3. Koesdini (Dien ~ perempuan),
No.4. Koestono (Ton alias Tonny Koeswoyo),
No.5. Koesnomo (Nom alias Nomo Koeswoyo),
No.6. Koesyono (Yon alias Yon Koeswoyo),
No.7. Koesroyo (Yok alias Yok Koeswoyo),
No.8. Koestami (Miyi ~ perempuan),
No.9. Koesmiani (Ninuk ~ perempuan).
Dari silsilah keluarga, mereka termasuk generasi ke 7 keturunan (trah) Sunan Muria di Tuban. Ibu mereka adalah keponakan dari Bupati Tuban pada zaman penjajahan Belanda saat itu.
Masa kecil Yon dilalui di kota Tuban, Jawa Timur bersaudara saudara-saudaranya. Tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta mengikuti mutasi Sang ayah berkarier hingga pensiun sebagai pegawai negeri di Kementrian Dalam Negeri.
Yon Koeswoyo mulai aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara kandungnya keluarga Koeswoyo yakni : (Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, Nomo Koeswoyo pada drum, Yon Koeswoyo pada vokal, dan Yok Koeswoyo pada vokal) dan seorang dari luar keluarga Koeswoyo yang bernama Jan Mintaraga sebagai gitaris awalnya.
Pada mulanya mereka menamakan grup ini Kus Brothers pada tahun 1958. Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twin, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini meniru pola Everly Brothers di Amerika, karena menggunakan 2 penyanyi kakak beradik yakni Yon dan Yok.
Mereka merekam album pertama pada tahun 1962. Setelah Jan Mintaraga mengundurkan diri, grup ini berganti nama menjadi Kus Bersaudara pada tahun 1963.
Beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun mengundurkan diri, sehingga menyisakan 4 personel kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Grup ini kemudian kembali mengganti namanya menjadi Koes Bersaudara.
Dalam formasi yang baru ini Yon tetap sebagai penyanyi utama disamping memegang alat musik rhythm gitar, disamping adiknya Yok yang juga masih menjadi penyanyi dengan memegang alat musik bass gitar.
Yon memang sejak awal diproyeksikan oleh Tonny untuk menjadi vokalis karena memiliki suara yang bagus. Karena itulah ia tak pernah secara khusus diajari oleh Tonny untuk memainkan alat musik gitar. Kemampuannya bermain gitar dipelajarinya sendiri secara otodidak dengan mengamati permainan gitar abangnya Tonny.
Grup ini meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965.
Yon dimasukkan satu sel bersama saudara-saudaranya, Tony, Nomo, dan Yok. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu karena dianggap musik yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia pada tahun 1965.
Namun Sebenarnya Pemenjaraan ini bertujuan untuk persiapan Bela Tanah Air saat terjadinya perselisihan dengan malaysia, saat presiden Soekarno menyatakan ganyang malaysia lewat seni permusikan. Pada Awalnya untuk dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, Bahkan Malaysia. Namun sebelum sempat dikirim untuk bela negara lewat permusikan, pemerintahan Soekarno telah lengser.
Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI) dan tidak jadi dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, dan Malaysia. Selepas itu karier bermusik mereka kembali berjalan.
Meski meraih kesuksesan dalam bermusik, namun kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan ekonomi. Abangnya Nomo Koeswoyo berinisiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum pada tahun 1969.
Ia memilih berusaha sampingan di luar bidang musik sebagai pedagang untuk menghidupi keluarganya. Oleh Tonny Koeswoyo, Nomo disuruh memilih untuk fokus pada musik di Koes Bersaudara atau keluar. Nomo bersikap lebih pragmatis dan memiliki prinsip yang berbeda dengan sang kakak, karena saat itu ia telah menikah dan telah memiliki 1 orang anak.
Posisi drummer yang ditinggalkan Nomo Koeswoyo kemudian digantikan oleh Kasmuri (dikenal dengan panggilan Murry). Masuknya Murry adalah rekomendasi dari Yon kepada Tonny. Yon dikenalkan kepada Murry lewatnya temannya Tommy Darmo.
Oleh Tonny, posisi Yok kemudian diganti dengan Adji Kartono atau biasa disingkat Totok AR (Totok Adji Rahman). Yon tak mempermasalahkan Tonny merekrut Murry dan Totok AR menjadi anggota band di luar keluarga Koeswoyo.
Tonny pun kemudian mengubah nama bandnya menjadi Koes Plus. Meski terseok-seok dalam keterbatasan finansial dan harus menyewa alat musik, mereka berhasil mengeluarkan album Koes Plus volume I "Dhag-Dheg Plas". Dalam formasi band ini Yon tetap berperan sebagai vokalis utama.
Namun pada album kedua Koes Plus, adiknya Yok mengubah pikirannya dan bersedia bergabung dalam Koes Plus sebagai pemain bass dan backing vokal mendampingi Yon. Dalam album II ini nama Koes Plus mulai dikenal. Koes Plus perlahan meraih kepopuleran dan mulai menjadi raja di kalangan band nasional.
Nama Koes Plus mulai dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu "Derita" serta "Manis Dan Sayang", "Senja", "Cintamu Telah Berlalu" dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970.
Saat itu Yon bersama Koes Plus tampil bersama band Panbers dan beberapa band sohor lainnya seperti The Candies, band Bhajangkara,dan The Rhadows. Saat itu lagu-lagu Koes Plus mulai dipengaruhi warna sweet sound ala Bee Gees dan The Cats. Yon Koeswoyo sendiri bahkan tiba-tiba berupaya menghasilkan vibra seperti halnya Barry Gibb dari Bee Gees.
Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung, menggelegak, dan merajai industri musil Indonesia. Terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco.
Dalam catatan pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.
Periode 1970-an seolah menjadi era mereka. Lagu-lagu mereka hits di tangga lagu Indonesia, dinyanyikan semua umur, seperti "Bujangan", "Muda-Mudi", "Kembali ke Jakarta", dan lainnya. Bahkan group ini berhasil merilis lebih dari 100 album berbagai jenis aliran musik seperti Pop, Dangdut, Melayu, Keroncong, Jawa, Folksong, Rock, Bosanova, Qasidah, Rohani Natal, Pop Anak-anak, dsb.
Lagu-lagu mereka banyak yang menjadi hits yang melegenda sepanjang masa hingga saat ini. Mereka juga menjadi bintang iklan beberapa produk: minuman ringan F&N, mobil Toyota Kijang, sampul buku tulis, dsb.
Dalam Koes Plus, suara Yon memang dominan meski Yok, Tony, dan bahkan Murry juga tampil sebagai penyanyi. Vokal Yon mendominasi pada sebagian besar lagu kondang Koes Plus seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Diana, Hidup Yang Sepi, dsb.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Yon_Koeswoyo
Lagu Tombo Ati ciptaan Sunan Bonang
Sunan Bonang pernah dicegat gerombolan begal. Yaitu oleh Kebondanu Sunan Bonang juga pernah dicegat oleh Berandal Lokajaya. Baik Kebondanu dan Berandal Lokajaya kemudian menjadi pengikut setia dan santri yang taat.
Lokajaya adalah putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta yang melawan kemewahan hidup sebagai anak pejabat. Dia layaknya seorang ‘robin hood’ Jawa, karena hasil rampokannya dia bagikan kepada rakyat miskin.
Berandal Lokajaya bernama asli Raden Said. Di kemudian hari Lokajaya dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Tombo Ati merupakan lagu rakyat yang dibuat oleh Sunan Bonang. Menurut cerita sejarah Sunan Bonang, yang hidup sekitar abad ke 16, lagu Tombo Ati ini merupakan lagu popular di pesantren dan dikalangan rakyat, selain karena mudah didendangkan juga mudah dalam menghapalkan.
Sebagai seorang pendakwah Sunan Bonang (1465-1525) terkenal telah menginsyafkan muridnya seorang “perampok budiman” bergelar Brandal Lokajaya. Si murid ini kemudian lebih sering disebut dengan sunan Kalijaga, dalam sejarah raja-raja Jawa.
Tombo Ati (Obat Hati) adalah nama sebuah sajak berbahasa Arab ciptaan sayyidina Ali, yang oleh KH. Bisri Mustofa dari Rembang (ayah KH. A. Mustofa Bisri) diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan judul tersebut
Lagu ini pun pernah dipopulerkan kembali oleh Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjeng dengan perubahan dalam pembawaan, baik melodi, kemasan, dan beberapa penambahan lirik.
Kemudian di tahun 2005 tombo ati dipopulerkan kembali oleh Opick, seorang penyanyi religius dengan kategori yang lebih pop. Dan usahanya tidak sia-sia dalam mempopulerkan lagu rakyat tersebut.
Bait-bait syair dari tembang “Tombo Ati” ini menggunakan bahasa Jawa yaitu:
“Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani”
Tembang ini berisi nasihat kepada kita, supaya hati kita selalu tenang dan selalu dekat kepada-Nya, ada lima resep yang harus kita laksanakan dalam mengarungi kehidupan ini. Lima resep ini juga sangat baik untuk dilaksanakan sekarang ini, terutama sebagai “obat penawar” dari berbagai luka yang sedang menimpa bumi pertiwi ini.
Kelima resep itu adalah :
1. Baca Qur’an dan maknanya.
2. Sholat malam dirikanlah
3. Berkumpul dengan orang soleh
4. Perbanyaklah berpuasa
5. Dzikir malam perpanjanglah
Sumber :
http://wiprasio.blogspot.co.id/2013/07/asal-usul-lagu-tombo-ati.html
https://www.dream.co.id/dinar/sunan-bonang-pencipta-tembang-tombo-ati-150330z.html
https://risestar.wordpress.com/2010/02/06/makna-lagu-tombo-ati-sunan-bonang/
http://jnukmi.uns.ac.id/portfolio-item/tombo-ati-iku-ana-lima/#.WdsHLTAxXIU
Lokajaya adalah putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta yang melawan kemewahan hidup sebagai anak pejabat. Dia layaknya seorang ‘robin hood’ Jawa, karena hasil rampokannya dia bagikan kepada rakyat miskin.
Berandal Lokajaya bernama asli Raden Said. Di kemudian hari Lokajaya dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Tombo Ati merupakan lagu rakyat yang dibuat oleh Sunan Bonang. Menurut cerita sejarah Sunan Bonang, yang hidup sekitar abad ke 16, lagu Tombo Ati ini merupakan lagu popular di pesantren dan dikalangan rakyat, selain karena mudah didendangkan juga mudah dalam menghapalkan.
Sebagai seorang pendakwah Sunan Bonang (1465-1525) terkenal telah menginsyafkan muridnya seorang “perampok budiman” bergelar Brandal Lokajaya. Si murid ini kemudian lebih sering disebut dengan sunan Kalijaga, dalam sejarah raja-raja Jawa.
Tombo Ati (Obat Hati) adalah nama sebuah sajak berbahasa Arab ciptaan sayyidina Ali, yang oleh KH. Bisri Mustofa dari Rembang (ayah KH. A. Mustofa Bisri) diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan judul tersebut
Lagu ini pun pernah dipopulerkan kembali oleh Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjeng dengan perubahan dalam pembawaan, baik melodi, kemasan, dan beberapa penambahan lirik.
Kemudian di tahun 2005 tombo ati dipopulerkan kembali oleh Opick, seorang penyanyi religius dengan kategori yang lebih pop. Dan usahanya tidak sia-sia dalam mempopulerkan lagu rakyat tersebut.
Bait-bait syair dari tembang “Tombo Ati” ini menggunakan bahasa Jawa yaitu:
“Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani”
Tembang ini berisi nasihat kepada kita, supaya hati kita selalu tenang dan selalu dekat kepada-Nya, ada lima resep yang harus kita laksanakan dalam mengarungi kehidupan ini. Lima resep ini juga sangat baik untuk dilaksanakan sekarang ini, terutama sebagai “obat penawar” dari berbagai luka yang sedang menimpa bumi pertiwi ini.
Kelima resep itu adalah :
1. Baca Qur’an dan maknanya.
2. Sholat malam dirikanlah
3. Berkumpul dengan orang soleh
4. Perbanyaklah berpuasa
5. Dzikir malam perpanjanglah
Sumber :
http://wiprasio.blogspot.co.id/2013/07/asal-usul-lagu-tombo-ati.html
https://www.dream.co.id/dinar/sunan-bonang-pencipta-tembang-tombo-ati-150330z.html
https://risestar.wordpress.com/2010/02/06/makna-lagu-tombo-ati-sunan-bonang/
http://jnukmi.uns.ac.id/portfolio-item/tombo-ati-iku-ana-lima/#.WdsHLTAxXIU
Subscribe to:
Posts (Atom)
Investor Kepincut Kilang Tuban RI
Ramai Investor Kepincut Kilang Tuban RI, Rusia Terpental? 14 September 2023 17:20 Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menk...
Related Post
-
Bakal Ada Tol Trans Jawa Jilid II, Seperti Apa Proyeknya? Proyek Tol Trans Jawa Jilid II segera terwujud. Serangkaian ruas tol tersebut...
-
Rencana Pembangunan Jalan Tol Bojonegoro Jalur Tol Bojonegoro Bakal Mengikuti Solo Valley Rencana pembangunan jalan tol di Bojonegoro...
-
Ramai Investor Kepincut Kilang Tuban RI, Rusia Terpental? 14 September 2023 17:20 Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menk...
-
Perkembangan Proyek KPBU Jalan Tol Demak - Tuban Jalan Tol Demak - Tuban merupakan salah satu proyek yang dibangun dengan skema KPBU solicit...
-
Sejarah Unirow UNIROW Tuban berdiri atas dasar SK Mendiknas RI Nomor:08/D/O/2007 Tanggal 4 Januari 2007 dengan memberikan izin penyelen...


