Pages

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, April 7, 2021

Sejarah Perang Tuban Melawan Mataram

Mengulik Sejarah Tuban Selatan dalam Perang Tuban Melawan Mataram

06 APRIL 2021

Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki julukan "Bumi Ronggolawe" dengan beragam cerita sejarah. Hal itu karena Tuban merupakan salah satu kota tua, yang berdiri sejak zaman Majapahit. Bahkan, pelabuhan Tuban pun menjadi bagian penting dalam proses perniagaan, yakni menjadi pelabuhan besar dan utama dalam jalur distribusi dan perdagangan dan, serta pelayaran pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

Namun, terlepas dari itu, terdapat cerita sejarah yang tidak semua masyarakat Tuban paham, yakni sejarah Tuban bagian selatan. Bahwasannya Tuban bagian selatan merupakan pusat perang Tuban melawan Mataram. Pusatnya terdapat di salah satu kecamatan di Tuban Selatan, yakni Desa Bangilan dan sekitarnya.

Pada pertengahan kedua abad ke-16, Kesultanan Demak sebagai kerajaan yang mendominasi seluruh Pulau Jawa terpecah menjadi beberapa negara karena faktor internal. Namun, perpecahan ini dapat diselesaikan dengan cara baik-baik melalui para pembesar Jawa, dan membuat kesepakatan bahwa ibu kota Kesultanan Demak berpindah ke Panjang dengan Sultan Hadiwijaya sebagai sultan selanjutnya.

Kemudian, Panembahan Senapati Mataram yang membangkang terhadap Sultan Hadiwijaya melakukan pemberontakan hingga gugurnya Sultan Hadiwijaya. Demi mempertahankan kehormatan negara, seluruh pembesar Jawa bersatu memilih Arya Pangiri sebagai sultan selanjutnya, yang sebelumnya menjabat sebagai Adipati Demak.

Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya dan jatuhnya negara timur di Madiun pada tahun 1590 M dengan cara yang licik oleh para pemberontak tersebut, persatuan Brang Wetan (persatuan kerajaan di nusantara) dipimpin oleh Surabaya dan Tuban sebagai gantinya. Pemilihan Arya Pangiri sebagai Sultan Demak sejatinya adalah rekomendasi dari Adipati Tuban dan Arya Pamalad, yang mengajak Panembahan Kudus untuk mengangkat Arya Pangiri atau Pangeran Jepara menjadi Sultan Pajang kedua.

Selanjutnya, hal itu disetujui oleh seluruh pembesar Jawa, bahkan juga diakui oleh para raja dari kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara. Mereka semua kemudian mengirimkan para duta kesatria ke Jawa sebagai wujud pengakuan, sekaligus sebagai dukungan untuk Kerajaan Pajang yang sah.

Mereka memutuskan berperang di Pajang pada tahun 1586 Masehi. Namun, akhirnya mereka mundur bersama Arya Pangiri ke Tuban Selatan. Para duta kesatria dari berbagai kerajaan di seluruh nusantara inilah yang sekarang mendirikan desa-desa di Tuban Selatan yang dahulunya adalah markas mereka.

Konon legitimasi kesultanan yang sah tersebut pada akhirnya diberikan kepada Adipati Tuban Arya Pamalad, sedangkan Arya Pangiri diangkat oleh Adipati Tuban sebagai seorang pemimpin wilayah di Tuban Selatan, yang bernama Kadipaten Warung. Dahulu, wilayah ini merupakan sengketa antara Mataram dan Tuban.

Arya Pamalad sendiri merupakan seorang yang pertama kali merekomendasikan Arya Pangiri sebagai Sultan Pajang. Kemudian, Arya Pangiri memilih Tuban sebagai tempat pelarianya dan memberikan legitimasi kesultanannya kepada Adipati Tuban Arya Pamalad.

Dikisahkan bahwa pemberontak tersebut terus melakukan aksinya hingga tahun 1586 Masehi, jatuhnya Arya Pangiri dan banyak kadipaten diduduki oleh pemberontak Mataram. Hal ini membuat bupati-bupati daerah timur, seperti Surabaya, Tuban, Japan, Malang, Madura, Sukadana, Banjarmasin, Ngurawan, Madiun, Blambangan, dan seluruh kadipaten di Jawa Timur membangun persekutuan atau pakta pertahanan bersama untuk menyerang Mataram.

Pada penyerangan ini, Mataram mengalami kekalahan. Senapati gagal merebut Tuban dan dipukul mundur karena kalah jumlah dan perlengkapan senjata. Ditambah lagi Tuban dibantu oleh pasukan sekutu yang berjumlah besar, yakni dari Surabaya, Pasuruan, Kanjuruhan, Japan ( Mojokerto), Madura, Sukadana, dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan.


Tuban si 'Kuda Perang'

Pasukan Tuban beserta sekutu mememukul mundur pasukan Mataram yang dipimpin oleh Senapati yang terdiri dari prajurit dari Jipang (Cepu) dan Pati, setelah pasukan Mataram berhasil dipukul mundur. Dikejarlah pasukan Mataram itu oleh pasukan sekutu hingga ke wilayah Jipang bagian utara, yang pada waktu itu bernama Jipang Leran.

Pertempuran kembali terjadi di wilayah Jipang dan kembali dimenangkan oleh pasukan Tuban, karena pasukan Mataram telah kelelahan akibat pertempuran sebelumnya. Ditambah lagi, pasukan Tuban pada waktu itu hampir semuanya adalah pasukan kavaleri penunggang kuda, sedangkan pasukan Mataram hampir semua adalah pasukan invanteri pejalan kaki yang bersenjata tumbak.

Akhirnya, wilayah Jipang jatuh ke dalam kekuasaan Tuban pada waktu itu, hal itu menyebabkan sebagian besar penduduknya mengungsi ke selatan, yakni ke kota raja Kadipaten Jipang (Cepu).

Tuban pada pada waktu itu sangat terkenal dengan kuda perangnya hingga mendapat julukan Tuban bumi pagedogan. Tak heran jika Tuban memiliki prajurit penunggang kuda yang hebat. Tak hanya kuda, gajah turut menguasai sepanjang pelabuhan Tuban untuk menarik kapal berlabuh dan gerobak barang dari kapal pedagang.

Setelah pasukan Tuban menguasai wilayah Jipang, disiagakanlah pasukan Tuban beserta aliansi di sepanjang Jipang Leran atau Tuban Selatan sebagai wilayah yang baru saja di kuasai, sekaligus untuk membagi harta rampasan berupa tanah dengan adil. Karena Tuban tidak berperang sendiri sehingga pasukan sekutupun juga mendapatkan bagian.

Para tawanan Jipang dan Pati yang terluka ataupun tertangkap mereka semua dihukum mati oleh prajurit Tuban dan dimakamkan di hutan Desa Banjar. Tujuan ditempatkanya prajurit Tuban di sepanjang Jipang Ler adalah untuk bersiaga perang atau berjaga-jaga akan terjadinya serangan balasan dari selatan.

Merujuk pada berbagai sumber lokal maupun tertulis, penempatan ini dipimpin langsung oleh Adipati Arya Pamalad beserta patihnya yang juga adiknya sendiri, yakni Arya Salempe yang akan menjadi Adipati Tuban setelahnya. Menurut sumber yang ada, pasukan Tuban berjumlah 3 kali lipat dari pasukan Mataram dan hampir semuanya ada kavaleri berkuda.

Dalam perang melawan Tuban Mataram tidak lagi hanya mengandalkan perang frontal karena walau pertahanan tetaplah kuat dengan bantuan sekutu. Mata-mata kembali berperan dalam menentukan penyerangan ke Tuban. Raja Mataram mengirim seorang mata-mata bernama Randu Watang ke sana. Randu Watang memberitahukan kepada raja bahwa Pangeran Dalem akan mengadakan pemberontakan.


Penyerangan dan Taktik Jalur

Setelah kemenangan pertama Tuban, para petinggi Tuban sangat yakin akan kemampuan para prajuritnya hingga akhirnya Tuban dan sekutu sepakat untuk menyerang Mataram sampai kepusat kekuasaan, yakni kota raja Mataram atau sekitar Yogyakarta sekarang. Dalam menentukan rute yang akan ditempuh seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun karena tanahnya datar, harga beras murah, dan banyak air.

Pelopor penyerangan hingga ke negeri Mataram ini kemungkinan adalah para prajurit pilihan dari Madiun yang sebelumnya menduduki Surabaya di tahun 1590 Masehi, karena negerinya berhasil dibobol oleh pemberontak Mataram yang licik. Para kesatria Madiun inilah yang di kemudian mendirikan Desa Ngepohan (Ngepon), Ngujuran, Bader, dan lainnya di Kecamatan Jatirogo dan Bancar. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih melewati Negeri Madiun karena mereka paham seluk beluk wilayah itu. Hal ini disampaikan oleh seorang kajineman Tuban yang baik.

Namun, untuk Adipati Tuban sendiri berfikir bahwa melewati jalur Pati juga lebih baik dari pada lewat Madiun, karena mengingat sekutu aliansi yakni Kadipaten Pajang juga akan turut bergabung dan memberontak terhadap Mataram, sekaligus dianggap sebagai kunci kemenangan dari serangan ke Mataram ini. Serangan ini didukung oleh para sekutu aliansi Brang Wetan, mereka adalah para kesatria yang berjuang untuk mempertahankan kehormatan Negara Pajang yang sah dari pemberontak Mataram. Hingga pada akhirnya terjadi perang besar di Siwalan pada tahun 1616 Masehi.

Pasukan aliansi sekutu bergerak sampai mendekati wilayah musuh. Mereka berkemah di Siwalan yang terletak dekat Pajang. Mereka berkemah di sana mungkin karena menganggap akan mendapatkan bantuan dari Pajang.

Namun, ternyata Pajang batal bergabung dengan mereka dan kembali kepada Mataram. Pasukan Mataram dibawah Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta memotong jalur pasokan makanan. Pasukan sekutu pun berperang dalam keadaan lapar dan sakit.

Adipati Tuban yang malu karena kebohongan mata-matanya telah menyesatkan sekutu, memberanikan diri menyerang terlebih dahulu. Akan tetapi tembakan-tembakan lawan menghalau kembali pasukannya yang sambil melarikan diri sebagian masuk ke dalam rawa (De Graaf, 1985).

Esok harinya serangan kedua dipimpin oleh Adipati Japan (Mojokerto) yang berakhir dengan kekalahan total bagi sekutu. Pasukan Surabaya dan Madura juga tidak bisa bertahan. Mereka dihabisi dalam pelarian, sedangkan Adipati Japan melakukan perlawanan hingga gugur. Atas perintah Raja Mataram, Sultan Agung, yang memuji keberaniannya, Adipati Japan dimakamkan di Butuh, sebelah Raja Pajang. Sementara itu, Adipati Tuban berhasil selamat.

Sekitar tiga tahun setelah pertempuran di Siwalan, Sultan Agung memerintahkan Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta untuk menyerang Tuban. Sebelumnya, kakeknya, Senopati, gagal menaklukkan Tuban. Serangan ini gagal karena kota itu pada peralihan tahun 1598-1599 masih berkembang dengan pesat dan penduduknya menyebut rajanya sebagai raja yang paling berkuasa di Jawa (De Graaf, 1985).

Serat Kandha menggambarkan jalannya pertempuran. Adipati Pati mengusulkan serangan kilat, tetapi Tumenggung Martalaya lebih menghendaki menunggu sampai pasukan Tuban keluar. Patih Tuban, Jaya Sentana, mengusulkan agar pasukan istimewa maju terlebih dahulu.

Adipati Tuban menolak karena mengandalkan sepenuhnya pada tiga meriam yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Meriam-meriam itu ditempatkan diatas tembok. Namun, dua meriam meledak yang membunuh banyak kawan dan lawan sedangkan meriam ketiga macet tidak bisa melepaskan tembakan.

Dalam serat Babad Tanah Djawi menyebut dua nama meriam itu ialah Sidamurti dan Pun Gelap. Meriam yang pertama membunuh tiga adipati, sedangkan dua lainnya meledak. Orang-orang Tuban terkejut karena menganggapnya sebagai pertanda kekalahan.

Terdapat banyak versi terkait sejarah Tuban bagian selatan ini. Namun, jika menillik pada peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Tuban selatan, seperti makam para pahlawannya dapat membuktikan bahwa sejarah Tuban selatan berawal dari perang Tuban melawan Mataram di abad ke-16. Di mana saat itu wilayah Tuban selatan bernama Jipang Ler. Itulah sedikit kisah peristiwa sejarah Tuban Selatan ketika perang Tuban melawan mataram.*


Referensi: 

Tan Koen Swie, Babad: - Tan Koen Swie (ed.), Babad Toeban. Kedir~ 1936. | Thomas Stanford Raffles. 2008. The History Of Java. Yogyakarta: Narasi | De Graaf, TH. Pigeaud . (1985). Kerajaan-kerajaan islam di Jawa. Jakarta


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/04/06/mengulik-sejarah-tuban-selatan-dalam-perang-tuban-melawan-mataram

Sunday, October 8, 2017

Kisah Ranggalawe

Ranggalawe atau Ronggolawe merupakan tokoh penting di balik berdirinya salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, Mahapahit. Dimana Ranggalawe adalah pengikut setia Raden Wijaya. Dia ikut berjuang untuk mendirikan kerajaan terbesar di Pulau Jawa dan termasyur di seluruh Nusantara itu.

Ronggolawe merupakan anak dari seorang tokoh Singosari yang memiliki reputasi cukup moncer di zamannya, yaitu Arya Wiraraja. Dia berhasil menduduki jabatan terhormat di kerajaan sebagai penasehat pemerintahan pada usianya yang tergolong masih muda.

Arya Wiraraja yang memiliki jabatan Demung Nyapati (Rakyan Demung) atau jabatan tinggi negara yang dekat denga raja ini mendapatkan mandat dari pemerintahan Singosari untuk menjadi Bupati Songenep (Sumenep), di pulau yang menjadi tanah kelahiran Arya Dhikara, Pulau Madura.

Dari kecil hingga remaja, Arya Dhikara tumbuh berkembang di pulau penghasil garam tersebut dan pada saat usianya sudah menginjak dewasa, dia diutus oleh ayahnya untuk membantu Sri Rajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya, membuka Hutan Tarik di sebelah barat Sidoarjo untuk dijadikan sebuah desa dengan nama Majapahit.

Beberapa saat setelah membantu Raden Wijaya membuka lahan, tentara Mongol yang dipimpin Shihpi, Kau Hsing dan Ike Mese berjumlah sektar 20 ribu orang menyerbu Pulau Jawa untuk membalas perlakuan pemerintahan Kartanegara terhadap utusan Kubilai khan, Meng Ki.

Kedatangan pasukan Tar-tar ini ternyata dimanfaatkan oleh Raden Wijaya dan Arya Wiraraja untuk memerangi Jayakatwang yang dipimpin Raja Glanggang dari Kediri. Setelah berhasil menggunakan ‘bantuan’ dari pasukan Tar-tar, Kediri akhirnya berhasil di kalahkan dan secara tiba-tiba pasukan Raden Wijaya dan Arya Wiraraja serta Arya Dhikara berbalik menyerang bala tentara luar itu. Setelah tentara Tar-tar terusir dari pulau Jawa, pada tahun 1293, Majapahit resmi diplokamirkan menjadi sebuah kerajaan.

Atas jasanya itu, Arya Dhikara dinobatkan sebagai penguasa sebuah daerah di pinggiran Pulau Jawa yang juga merupakan pelabuhan utama di Jawa Timur dan kini dikenal dengan nama Tuban. Selain itu, Raden Wijaya juga memberikan gelar kehormatan kepada Arya Dhikara, yaitu Ranggalawe karena berhasil mengumpulkan pasukan kavaleri dengan kekuatan 700 personil.



Menurut pakar sejarah, Ranggalawe sendiri merupakan gabungan dari 2 kata, yaitu Rangga yang memiliki artian ksatria atau pegawai kerajaan, sedangkan Lawe merupakan sinonim dari wenang, benang atau menang yang artinya kekuasaan atau kemenangan. Jadi jika keduanya digabung akan memiliki artian ksatria pemenang.

Konon Ranggalawe dikuburkan di sebuah tempat yang berada di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban. Sekitar 400 Meter dari kompleks Wisata Religi makam Sunan Bonang. tempat tersebut merupakan areal pemakaman Islam, namun pada saat itu, Ronggolawe beragama Hindu. Cerita lain menyebutkan bahwa jasadnya dibakar dan abunya dilarung di Laut Jawa.

Masyarakat Tuban tetap menghormati Ranggalawe sebagai tokoh besar dan pahlawan. Bahkan di Tuban, ada banyak sekali patung dan monumen yang didirikan untuk menghormati dirinya serta penggunaan ciri khas Ranggalawe yaitu kuda hitam sebagai lambang Tuban.


Sumber :
http://www.orangdalam.com/kisah-ronggolawe/5402

Lagu Tombo Ati ciptaan Sunan Bonang

Sunan Bonang pernah dicegat gerombolan begal. Yaitu oleh Kebondanu Sunan Bonang juga pernah dicegat oleh Berandal Lokajaya. Baik Kebondanu dan Berandal Lokajaya kemudian menjadi pengikut setia dan santri yang taat.

Lokajaya adalah putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta yang melawan kemewahan hidup sebagai anak pejabat. Dia layaknya seorang ‘robin hood’ Jawa, karena hasil rampokannya dia bagikan kepada rakyat miskin.

Berandal Lokajaya bernama asli Raden Said. Di kemudian hari Lokajaya dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Tombo Ati merupakan lagu rakyat yang dibuat oleh Sunan Bonang. Menurut cerita sejarah Sunan Bonang, yang hidup sekitar abad ke 16, lagu Tombo Ati ini merupakan lagu popular di pesantren dan dikalangan rakyat, selain karena mudah didendangkan juga mudah dalam menghapalkan.

Sebagai seorang pendakwah Sunan Bonang (1465-1525) terkenal telah menginsyafkan muridnya seorang “perampok budiman” bergelar Brandal Lokajaya. Si murid ini kemudian lebih sering disebut dengan sunan Kalijaga, dalam sejarah raja-raja Jawa.

Tombo Ati (Obat Hati) adalah nama sebuah sajak berbahasa Arab ciptaan sayyidina Ali, yang oleh KH. Bisri Mustofa dari Rembang (ayah KH. A. Mustofa Bisri) diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan judul tersebut

Lagu ini pun pernah dipopulerkan kembali oleh Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjeng dengan perubahan dalam pembawaan, baik melodi, kemasan, dan beberapa penambahan lirik.

Kemudian di tahun 2005 tombo ati dipopulerkan kembali oleh Opick, seorang penyanyi religius dengan kategori yang lebih pop. Dan usahanya tidak sia-sia dalam mempopulerkan lagu rakyat tersebut.


Bait-bait syair dari tembang “Tombo Ati” ini menggunakan bahasa Jawa yaitu:

“Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani”

Tembang ini berisi nasihat kepada kita, supaya hati kita selalu tenang dan selalu dekat kepada-Nya, ada lima resep yang harus kita laksanakan dalam mengarungi kehidupan ini. Lima resep ini juga sangat baik untuk dilaksanakan sekarang ini, terutama sebagai “obat penawar” dari berbagai luka yang sedang menimpa bumi pertiwi ini.

Kelima resep itu adalah :
1. Baca Qur’an dan maknanya.
2. Sholat malam dirikanlah
3. Berkumpul dengan orang soleh
4. Perbanyaklah berpuasa
5. Dzikir malam perpanjanglah


Sumber :
http://wiprasio.blogspot.co.id/2013/07/asal-usul-lagu-tombo-ati.html
https://www.dream.co.id/dinar/sunan-bonang-pencipta-tembang-tombo-ati-150330z.html
https://risestar.wordpress.com/2010/02/06/makna-lagu-tombo-ati-sunan-bonang/
http://jnukmi.uns.ac.id/portfolio-item/tombo-ati-iku-ana-lima/#.WdsHLTAxXIU

Sunan Bonang


Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua.

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Bonang
http://azimatkalam.blogspot.com/2016/11/sunan-bonang-raden-maulana-makdum.html

Kota Tuban dan Walisongo


Kota Tuban menjadi salah satu pusat penyebaran Agama Islam oleh para Walisongo, dimana agama Islam mulai masuk ditanah Jawa pada permulaan abad ke XV. Diantaranya adalah

1. Maulana Malik Ibrahim menetap di Laren (kurang lebih 6 pal dari Gresik). Wafat tahun 1419 dan dimakamkan di Gresik.

2. Raden Rahmat anak dari Raja Campa (putri lain dari Raja Campa yaitu Dwarmawati kawin dengan Brawijaya, dengan demikian pernah paman R. Rahmat) Raden Rahmat menetap di Ampel (Surabaya) (dan mendapatkan nama Sunan Ngampel). Wafat tahun 1467 dan dimakamkan di Ngampel.

3. Pangeran Paku, anak dari Putri Blambangan (dekat Banyuwangi) dan menetap di Giri. Wafat pada tahun 1483 dan dimakamkan di Giri.

4. Mahdum Ibrahim, Putra Raden Rahmat (Sunan Ngampel) menetap di Bonang (dekat Lasem) dan dinamakan Sunan Bonang. Dari Desa Pantai Bonang, beliau memperluas agama Islam kejurusan Tuban. Dapat dipercaya, sejarah yang menjelaskan bahwa beliau datang dari Tuban : Ibunya Ageng Manilo, kakak perempuannya Nyai Ageng Manyuro (Putri dari Sunan Ngampel) dan murid-murid lainnya lagi banyak dimakamkan di Tuban.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1486 dan dimakamkan di Bonang. Akan tetapi selanjutnya dipindah dimakamkan dalam Kota Tuban. Di dalam keterangan Dr. D.J.C. Schrieke, Sunang Bonang tidak disebut sebagai orang Islam yang pertama, tetapi sebagai imam (jauh sebelum beliau di Tuban telah ada orang-orang yang telah memeluk agama Islam). Ini dapat dibuktikan, dimana para Bupati Tuban, mulai Bupati Arjo Tejo, pada tahun 1460 telah memeluk agama Islam.

5. Sunan Drajat (masih Moenat) putra ke II dari Sunan Ngampel, menetap di Drajat (dekat Sedayu).

6. Sunan Kalijogo (R.M. Sahit) Putra Wilotikto Bupati Tuban dan kemenakan Sunan Bonang, menetap di Kalijogo dan dengan demikian dinamakan Sunan Kalijogo.

7. Syeh Nurudin Ibrahim Ibn Maulana Israel atau secara singkat dinamakan Syeh Ibn Maulana, menetap di Gunung Jati (dekat Cirebon) dan demikian dinamakan Sunan Gunung Jati.


Sumber :
http://apakabartuban.blogspot.co.id/2010/09/tuban-jaman-majapahit-hingga-sekarang.html
https://www.youtube.com/watch?v=GDfj-7OPtTM

Tanggal Lahir Kota Tuban

Tanggal 12 November 1293 merupakan hari jadi Tuban. Tanggal tersebut diambil dari pengakuan resmi Kerajaan Majapahit terhadap Kadipaten Tuban dengan melantik Raden Arya Ronggolawe sebagai Adipatinya (1293 M).

Dalam sebuah kitab kuno yang tertulis dalam bahasa jawa kawi, Serat Pararaton (Kitab Pustaka Raja) menyebutkan bahwa pada tahun 1293, Pantai Boom Tuban menjadi tempat pendaratan Pasukan Tar-tar dari Kerajaan Mongolia yang akan menyerang Kerajaan Kediri.


Kaisar Kubilai Khan mengerahkan bala tentara Tar-tar karena bermaksud menghukum Raja Kertanegara yang telah menghina dirinya dengan memotong telinga utusannya.

Jauh hari Raja Kertanegara sebenarnya telah tewas di tangan Prabu Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Namun Kubilai Khan tak mengetahuinya. Kedatangan pasukan Tar-tar ini dipengaruhi oleh Raden Wijaya, raja pertama Majapahit agar mau secara bersama-sama menyerang Kediri.

Akhirnya Kediri bisa dikalahkan oleh gabungan tentara Tar-tar dan pasukan Raden Wijaya. Pasukan Tar-tar yang sudah banyak kehilangan prajuritnya itu selanjutnya dengan mudah dipukul mundur oleh Raden Wijaya bersama wakilnya, Raden Ronggolawe.

Setelah Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit pada 12 November 1293 maka diangkatlah Ronggolawe sebagai Mantri Amancanegara (menteri luar negeri) dan Adipati Dataran (bupati) di Tuban. Sejak saat itu pulalah Pantai Boom ini menjadi pelabuhan niaga internasional, dan Tuban semakin dikenal di seantero Nusantara.


Sumber :
http://kabartuban.com/tuban-kota-lama-lebih-tua-dari-usianya/10266
https://www.jawapos.com/read/2017/08/28/153752/terinspirasi-era-majapahit-pedagang-bersatu-demi-tanah-air

Hubungan Kota Tuban dengan Majapahit

Pada zaman dahulu Tuban dijadikan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit.

Pada waktu Prabu Brawijaya ke VII atau Ongkowijoyo VII bertahta selaku raja di Majapahit, (raja-raja yang dahulu juga dinamakan Brawijaya), Tuban jadi andalan Majapahit. Prabu Brawijaya kawin dengan Dwarmawati Putri Prabu Campa, suatu kerajaan di Kamboja.

Pada waktu Brawijaya memerintah di Majapahit. Tuban merupakan bawahan dari padanya, di daerah Tuban berkuasa berturut-turut para Bupati, Aryo Randu Kuning, Aryo Bangah, Aryo Dandang Miring, Aryo Dandang Wacono, Aryo Ronggolawe, Aryo Sirolawe, Aryo Wenang, Aryo Leno, dan Aryo Dikoro, yang menurut sejarah memerintah sejak tahun 1200

Majapahit didirikan oleh seorang pangeran dari Pasundan, yang bernama Jaka Sesuruh atau Raden Tanduran. Ibu Jaka Sesuruh konon kelahiran Tuban, dan kakak laki-lakinya bernama Arya Bangah yang kelak menjadi pejabat di Tuban.


Hubungan antara Tuban dan kota kerajaan di pelosok Jawa Timur, Majapahit, memang ada dalam sejarah. Jalinan hubungan itu, pada abad ke-15 dan 16, dan bahkan sebelum itu, benar-benar ada. Obyek Wisata Pantai Boom dahulu menjadi lokasi pendaratan pasukan Tartar

Ada beberapa alasan untuk percaya akan adanya hubungan antara Pasundan dan Jawa Timur. Pada zaman dulu, mobilitas rakyat baik di wilayah kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur maupun di laut sepanjang pesisir utara mulai tumbuh lebih besar daripada masa kemudian.

Di masa itu, para pejabat tidak mau lagi melepaskan para petaninya demi menjamin masuknya hasil panen tahunan secara teratur.

Posisi dinasti Ranggalawe di Tuban cukup penting. Ayah Ranggalawe, Dandang Wacana, pergi ke Bali untuk mengambil Putri Bali bagi Raja Majapahit, Raden Wijaya. Putri Bali ini kelak menjadi nenek ratu Majapahit yang kemudian dikenal dengan nama Ratu Kenya.

Ranggalawe sendiri dan putranya adalah pahlawan keraton Ratu Kenya dalam peperangan melawan Adipati Blambangan, Menak Jinggo, yang meminang dia. Ranggalawe menjadi pahlawan dalam balada-balada klasik sejarah di Jawa Timur, yang disusun pada abad ke-15 atau sesudahnya. Ranggalawe hidup sekitar tahun 1300, dan merupakan teman seperjuangan sang pangeran pendiri Majapahit.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tuban
https://jawatimuran.net/2013/05/14/sejarah-dan-legenda-kabupaten-tuban/
http://apakabartuban.blogspot.co.id/2010/09/tuban-jaman-majapahit-hingga-sekarang.html

Sejarah Kota Tuban


Sejarah dapat digali dengan data pendukung untuk penelusuran mengenai Tuban sebagai desa atau wilayah yang setingkat dengan kabupaten dengan sumber tertulis. Sumber tertulis tersebut diantaranya berupa prasasti seperti Prasasti Kambang Putih, Prasasti Malengga, Prasasti Banjaran, Prasasti Tuban.

Sumber tertulis lainnya adalah mengenai berita tentara Tar Tar dibawah pimpinan komando Sih-pie, Kau Sing dan Ike Messe, sebagian mendarat di Tuban dan sebagian meneruskan ke Sedayu. Dengan bantuan Raden Wijaya, tentara TarTar dapat mengalahkan Jayakatwang dari Kediri dan pada akhirnya tentara Tar-Tar dapat di hancurkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Arya Wiraraja dari Sumenep. Setelah hancurnya tentara Tar-Tar, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Mojopahit dengan gelar Sri Kertajasa Prawira.

Dan sumber tertulis terakhir adalah berita luar negeri, yaitu berita Cina tentang uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Shing Lan. Ma Hua adalah orang Tionghoa yang beragama Islam, yang mengiringi perjalanan Cheng Ho dalam perjalanan ke daerah daerah lautan selatan (1413 M–1425 M).


Sumber :
https://betulcerita.blogspot.co.id/2016/07/asal-usul-kota-tuban-jawa-timur.html

Asal Usul Kata Tuban

Kota Tuban memiliki asal usul dalam beberapa versi, yaitu diantaranya

Versi Pertama
Dari lakuran watu tiban (batu yang jatuh dari langit), yaitu batu pusaka yang dibawa oleh sepasang burung dari Majapahit menuju Demak, dan ketika batu tersebut sampai di atas Kota Tuban, batu tersebut jatuh dan dinamakan Tuban.

Versi Kedua
Arti kata Tuban berasal dari kata bahasa jawa “meTU BANyune” yang berarti “keluar airnya”. Orang Jawa sering membuat dua kalimat atau lebih menjadi lebih pendek. Dua kata “meTU BANyune” disingkat menjadi satu kata yaitu “Tuban”.

Orang jawa memang menyukai hal-hal yang singkat dan mudah dalam menyebut sesuatu. Mereka tidak menyukai kata-kata yang ruwet atau panjang. Hal ini tentu saja sangat baik mengingat satu kata lebih mudah diucapkan dan diingat daripada kata yang lebih panjang.

Pada jaman itu (masa kerajaan Majapahit), terdapat sebuah tempat yang masih berupa hutan lebat dan belum begitu dikenal masyarakat. Sebuah sejarah menyebut bahwa tempat ini awalnya adalah sebuah belantara yang disulap menjadi tempat hunian. Orang yang pertama kali membuka hutan dan menemukan tempat ini sangat heran dengan adanya begitu banyak sumber air. Tak hanya sumber air yang melimpah ruah, ditempat ini banyak ditemukan tempat-tempat yang mengeluarkan sumber air baik itu yang besar maupun yang kecil. Di berbagai tempat, air memancar begitu deras tanpa perlu menggalinya.

Lakuran dari metu banyu berarti keluar air, yaitu peristiwa ketika Raden Dandang Wacana (Kyai Gede Papringan) atau Bupati Tuban yang pertama membuka hutan Papringan dan anehnya, ketika pembukaan hutan tersebut keluar air yang sangat deras. Hal ini juga berkaitan dengan adanya sumur tua yang dangkal tetapi airnya melimpah, dan istimewanya sumur tersebut airnya tawar padahal berada di dekat pantai. 

Versi Ketiga
Tuban berasal dari kata "tuba" atau racun yang artinya sama dengan nama kecamatan di Tuban yaitu Kecamatan Jenu.



Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tuban
http://www.tubancity.com/sejarah-dan-arti-kata-kota-tuban.html

Investor Kepincut Kilang Tuban RI

Ramai Investor Kepincut Kilang Tuban RI, Rusia Terpental? 14 September 2023 17:20 Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menk...

Related Post