Pages

Friday, December 24, 2021

Ring Road Tuban Tahap 1 Telah Dibuka

Ring Road Tuban Tahap 1 Telah Dibuka, Pekerjaan Ring Road Tahap 2 Mencapai 76 Persen

NOV 25, 2021


Pembangunan Jalan Lingkar Tuban atau jalur Ring Road Kabupaten Tuban tahap 2 saat ini telah mencapai 76 persen. Aktivitas proyek yang dilaksanakan Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV Provinsi Jawa Timur melalui PPK 4.4 Jawa Timur tersebut, dimulai dari titik pertigaan di Desa Tunah yang membentang hingga Desa Prungguhan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, sepanjang 6,87 kilometer.

PPK 4.4 Provinsi Jawa Timur, Yudi Dwi Prasetyo menjelaskan, Jalan Lingkar Tuban tahap 2 menggunakan flexible pavement atau perkerasan lentur dengan 2 lajur dari Semarang hingga Lamongan.

“Total panjang ring road Tuban tahap dua yang dikerjakan saat ini 6,87 kilometer dengan 2 lajur,” kata Yudi melalui pesan singkat, Kamis (25/11/2021).

Sementara itu, imbuh Yudi, untuk Jalan Lingkar Selatan (JLS) atau Ring Road Tuban tahap 1 sudah selesai dikerjakan. Total panjang jalan dengan 2 lajur itu adalah 12,41 kilometer.

Ring road Tuban tahap 1 yang menggunakan flexible pavement tersebut telah resmi dibuka dan sudah mulai dilewati kendaraan yang dari arah Surabaya menuju Semarang.

“Jalan ring road taha 1 juga telah dinamai, Jalan KH Hasyim Asy’ari dan Jalan KH Abdul Wahab Hasbullah,” ujarnya.

Jalan KH Abdul Wahab Hasbullah, dimulai dari pintu masuk pertigaan Kepet Desa Tunah, Kecamatan Semanding sampai di Perempatan Desa Penambangan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Sedangkan jalan KH Hasyim Asy’ari berada di perempatan Desa Penambangan, Kecamatan Semanding sampai perempatan Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.

Pembangunan Kalan Lingkar Tuban diharapkan akan meningkatkan konektivitas serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Selain akan menambah aksesibiltas, Jalur Lingkar Tuban akan meningkatkan distribusi dan jalur logistik.


Sumber :

https://eljabar.com/ring-road-tuban-tahap-1-telah-dibuka-pekerjaan-ring-road-tahap-2-mencapai-76-persen/

Wednesday, April 7, 2021

Sejarah Perang Tuban Melawan Mataram

Mengulik Sejarah Tuban Selatan dalam Perang Tuban Melawan Mataram

06 APRIL 2021

Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki julukan "Bumi Ronggolawe" dengan beragam cerita sejarah. Hal itu karena Tuban merupakan salah satu kota tua, yang berdiri sejak zaman Majapahit. Bahkan, pelabuhan Tuban pun menjadi bagian penting dalam proses perniagaan, yakni menjadi pelabuhan besar dan utama dalam jalur distribusi dan perdagangan dan, serta pelayaran pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

Namun, terlepas dari itu, terdapat cerita sejarah yang tidak semua masyarakat Tuban paham, yakni sejarah Tuban bagian selatan. Bahwasannya Tuban bagian selatan merupakan pusat perang Tuban melawan Mataram. Pusatnya terdapat di salah satu kecamatan di Tuban Selatan, yakni Desa Bangilan dan sekitarnya.

Pada pertengahan kedua abad ke-16, Kesultanan Demak sebagai kerajaan yang mendominasi seluruh Pulau Jawa terpecah menjadi beberapa negara karena faktor internal. Namun, perpecahan ini dapat diselesaikan dengan cara baik-baik melalui para pembesar Jawa, dan membuat kesepakatan bahwa ibu kota Kesultanan Demak berpindah ke Panjang dengan Sultan Hadiwijaya sebagai sultan selanjutnya.

Kemudian, Panembahan Senapati Mataram yang membangkang terhadap Sultan Hadiwijaya melakukan pemberontakan hingga gugurnya Sultan Hadiwijaya. Demi mempertahankan kehormatan negara, seluruh pembesar Jawa bersatu memilih Arya Pangiri sebagai sultan selanjutnya, yang sebelumnya menjabat sebagai Adipati Demak.

Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya dan jatuhnya negara timur di Madiun pada tahun 1590 M dengan cara yang licik oleh para pemberontak tersebut, persatuan Brang Wetan (persatuan kerajaan di nusantara) dipimpin oleh Surabaya dan Tuban sebagai gantinya. Pemilihan Arya Pangiri sebagai Sultan Demak sejatinya adalah rekomendasi dari Adipati Tuban dan Arya Pamalad, yang mengajak Panembahan Kudus untuk mengangkat Arya Pangiri atau Pangeran Jepara menjadi Sultan Pajang kedua.

Selanjutnya, hal itu disetujui oleh seluruh pembesar Jawa, bahkan juga diakui oleh para raja dari kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara. Mereka semua kemudian mengirimkan para duta kesatria ke Jawa sebagai wujud pengakuan, sekaligus sebagai dukungan untuk Kerajaan Pajang yang sah.

Mereka memutuskan berperang di Pajang pada tahun 1586 Masehi. Namun, akhirnya mereka mundur bersama Arya Pangiri ke Tuban Selatan. Para duta kesatria dari berbagai kerajaan di seluruh nusantara inilah yang sekarang mendirikan desa-desa di Tuban Selatan yang dahulunya adalah markas mereka.

Konon legitimasi kesultanan yang sah tersebut pada akhirnya diberikan kepada Adipati Tuban Arya Pamalad, sedangkan Arya Pangiri diangkat oleh Adipati Tuban sebagai seorang pemimpin wilayah di Tuban Selatan, yang bernama Kadipaten Warung. Dahulu, wilayah ini merupakan sengketa antara Mataram dan Tuban.

Arya Pamalad sendiri merupakan seorang yang pertama kali merekomendasikan Arya Pangiri sebagai Sultan Pajang. Kemudian, Arya Pangiri memilih Tuban sebagai tempat pelarianya dan memberikan legitimasi kesultanannya kepada Adipati Tuban Arya Pamalad.

Dikisahkan bahwa pemberontak tersebut terus melakukan aksinya hingga tahun 1586 Masehi, jatuhnya Arya Pangiri dan banyak kadipaten diduduki oleh pemberontak Mataram. Hal ini membuat bupati-bupati daerah timur, seperti Surabaya, Tuban, Japan, Malang, Madura, Sukadana, Banjarmasin, Ngurawan, Madiun, Blambangan, dan seluruh kadipaten di Jawa Timur membangun persekutuan atau pakta pertahanan bersama untuk menyerang Mataram.

Pada penyerangan ini, Mataram mengalami kekalahan. Senapati gagal merebut Tuban dan dipukul mundur karena kalah jumlah dan perlengkapan senjata. Ditambah lagi Tuban dibantu oleh pasukan sekutu yang berjumlah besar, yakni dari Surabaya, Pasuruan, Kanjuruhan, Japan ( Mojokerto), Madura, Sukadana, dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan.


Tuban si 'Kuda Perang'

Pasukan Tuban beserta sekutu mememukul mundur pasukan Mataram yang dipimpin oleh Senapati yang terdiri dari prajurit dari Jipang (Cepu) dan Pati, setelah pasukan Mataram berhasil dipukul mundur. Dikejarlah pasukan Mataram itu oleh pasukan sekutu hingga ke wilayah Jipang bagian utara, yang pada waktu itu bernama Jipang Leran.

Pertempuran kembali terjadi di wilayah Jipang dan kembali dimenangkan oleh pasukan Tuban, karena pasukan Mataram telah kelelahan akibat pertempuran sebelumnya. Ditambah lagi, pasukan Tuban pada waktu itu hampir semuanya adalah pasukan kavaleri penunggang kuda, sedangkan pasukan Mataram hampir semua adalah pasukan invanteri pejalan kaki yang bersenjata tumbak.

Akhirnya, wilayah Jipang jatuh ke dalam kekuasaan Tuban pada waktu itu, hal itu menyebabkan sebagian besar penduduknya mengungsi ke selatan, yakni ke kota raja Kadipaten Jipang (Cepu).

Tuban pada pada waktu itu sangat terkenal dengan kuda perangnya hingga mendapat julukan Tuban bumi pagedogan. Tak heran jika Tuban memiliki prajurit penunggang kuda yang hebat. Tak hanya kuda, gajah turut menguasai sepanjang pelabuhan Tuban untuk menarik kapal berlabuh dan gerobak barang dari kapal pedagang.

Setelah pasukan Tuban menguasai wilayah Jipang, disiagakanlah pasukan Tuban beserta aliansi di sepanjang Jipang Leran atau Tuban Selatan sebagai wilayah yang baru saja di kuasai, sekaligus untuk membagi harta rampasan berupa tanah dengan adil. Karena Tuban tidak berperang sendiri sehingga pasukan sekutupun juga mendapatkan bagian.

Para tawanan Jipang dan Pati yang terluka ataupun tertangkap mereka semua dihukum mati oleh prajurit Tuban dan dimakamkan di hutan Desa Banjar. Tujuan ditempatkanya prajurit Tuban di sepanjang Jipang Ler adalah untuk bersiaga perang atau berjaga-jaga akan terjadinya serangan balasan dari selatan.

Merujuk pada berbagai sumber lokal maupun tertulis, penempatan ini dipimpin langsung oleh Adipati Arya Pamalad beserta patihnya yang juga adiknya sendiri, yakni Arya Salempe yang akan menjadi Adipati Tuban setelahnya. Menurut sumber yang ada, pasukan Tuban berjumlah 3 kali lipat dari pasukan Mataram dan hampir semuanya ada kavaleri berkuda.

Dalam perang melawan Tuban Mataram tidak lagi hanya mengandalkan perang frontal karena walau pertahanan tetaplah kuat dengan bantuan sekutu. Mata-mata kembali berperan dalam menentukan penyerangan ke Tuban. Raja Mataram mengirim seorang mata-mata bernama Randu Watang ke sana. Randu Watang memberitahukan kepada raja bahwa Pangeran Dalem akan mengadakan pemberontakan.


Penyerangan dan Taktik Jalur

Setelah kemenangan pertama Tuban, para petinggi Tuban sangat yakin akan kemampuan para prajuritnya hingga akhirnya Tuban dan sekutu sepakat untuk menyerang Mataram sampai kepusat kekuasaan, yakni kota raja Mataram atau sekitar Yogyakarta sekarang. Dalam menentukan rute yang akan ditempuh seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun karena tanahnya datar, harga beras murah, dan banyak air.

Pelopor penyerangan hingga ke negeri Mataram ini kemungkinan adalah para prajurit pilihan dari Madiun yang sebelumnya menduduki Surabaya di tahun 1590 Masehi, karena negerinya berhasil dibobol oleh pemberontak Mataram yang licik. Para kesatria Madiun inilah yang di kemudian mendirikan Desa Ngepohan (Ngepon), Ngujuran, Bader, dan lainnya di Kecamatan Jatirogo dan Bancar. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih melewati Negeri Madiun karena mereka paham seluk beluk wilayah itu. Hal ini disampaikan oleh seorang kajineman Tuban yang baik.

Namun, untuk Adipati Tuban sendiri berfikir bahwa melewati jalur Pati juga lebih baik dari pada lewat Madiun, karena mengingat sekutu aliansi yakni Kadipaten Pajang juga akan turut bergabung dan memberontak terhadap Mataram, sekaligus dianggap sebagai kunci kemenangan dari serangan ke Mataram ini. Serangan ini didukung oleh para sekutu aliansi Brang Wetan, mereka adalah para kesatria yang berjuang untuk mempertahankan kehormatan Negara Pajang yang sah dari pemberontak Mataram. Hingga pada akhirnya terjadi perang besar di Siwalan pada tahun 1616 Masehi.

Pasukan aliansi sekutu bergerak sampai mendekati wilayah musuh. Mereka berkemah di Siwalan yang terletak dekat Pajang. Mereka berkemah di sana mungkin karena menganggap akan mendapatkan bantuan dari Pajang.

Namun, ternyata Pajang batal bergabung dengan mereka dan kembali kepada Mataram. Pasukan Mataram dibawah Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta memotong jalur pasokan makanan. Pasukan sekutu pun berperang dalam keadaan lapar dan sakit.

Adipati Tuban yang malu karena kebohongan mata-matanya telah menyesatkan sekutu, memberanikan diri menyerang terlebih dahulu. Akan tetapi tembakan-tembakan lawan menghalau kembali pasukannya yang sambil melarikan diri sebagian masuk ke dalam rawa (De Graaf, 1985).

Esok harinya serangan kedua dipimpin oleh Adipati Japan (Mojokerto) yang berakhir dengan kekalahan total bagi sekutu. Pasukan Surabaya dan Madura juga tidak bisa bertahan. Mereka dihabisi dalam pelarian, sedangkan Adipati Japan melakukan perlawanan hingga gugur. Atas perintah Raja Mataram, Sultan Agung, yang memuji keberaniannya, Adipati Japan dimakamkan di Butuh, sebelah Raja Pajang. Sementara itu, Adipati Tuban berhasil selamat.

Sekitar tiga tahun setelah pertempuran di Siwalan, Sultan Agung memerintahkan Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta untuk menyerang Tuban. Sebelumnya, kakeknya, Senopati, gagal menaklukkan Tuban. Serangan ini gagal karena kota itu pada peralihan tahun 1598-1599 masih berkembang dengan pesat dan penduduknya menyebut rajanya sebagai raja yang paling berkuasa di Jawa (De Graaf, 1985).

Serat Kandha menggambarkan jalannya pertempuran. Adipati Pati mengusulkan serangan kilat, tetapi Tumenggung Martalaya lebih menghendaki menunggu sampai pasukan Tuban keluar. Patih Tuban, Jaya Sentana, mengusulkan agar pasukan istimewa maju terlebih dahulu.

Adipati Tuban menolak karena mengandalkan sepenuhnya pada tiga meriam yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Meriam-meriam itu ditempatkan diatas tembok. Namun, dua meriam meledak yang membunuh banyak kawan dan lawan sedangkan meriam ketiga macet tidak bisa melepaskan tembakan.

Dalam serat Babad Tanah Djawi menyebut dua nama meriam itu ialah Sidamurti dan Pun Gelap. Meriam yang pertama membunuh tiga adipati, sedangkan dua lainnya meledak. Orang-orang Tuban terkejut karena menganggapnya sebagai pertanda kekalahan.

Terdapat banyak versi terkait sejarah Tuban bagian selatan ini. Namun, jika menillik pada peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Tuban selatan, seperti makam para pahlawannya dapat membuktikan bahwa sejarah Tuban selatan berawal dari perang Tuban melawan Mataram di abad ke-16. Di mana saat itu wilayah Tuban selatan bernama Jipang Ler. Itulah sedikit kisah peristiwa sejarah Tuban Selatan ketika perang Tuban melawan mataram.*


Referensi: 

Tan Koen Swie, Babad: - Tan Koen Swie (ed.), Babad Toeban. Kedir~ 1936. | Thomas Stanford Raffles. 2008. The History Of Java. Yogyakarta: Narasi | De Graaf, TH. Pigeaud . (1985). Kerajaan-kerajaan islam di Jawa. Jakarta


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/04/06/mengulik-sejarah-tuban-selatan-dalam-perang-tuban-melawan-mataram

Wednesday, February 17, 2021

Warga Satu Desa di Tuban Borong 176 Mobil Baru

Viral Video Warga Satu Desa di Tuban Borong 176 Mobil Baru

Selasa, 16 Feb 2021 16:08 WIB

Tuban - Warga satu desa di Tuban memborong 176 mobil baru. Kini videonya tengah viral di media sosial.

Video tersebut salah satunya diunggah akun Instagram @ndorobeii sekitar 5 jam yang lalu. Hingga saat ini, video berdurasi 59 detik itu sudah 98.574 kali tayang dan hampir mendapat seribu komentar.

"Warga ramai-ramai membeli mobil baru usai terima uang ganti rugi lahan kilang minyak Desa Sumurgeneng, Kec Jenu, Kab Tuban, Jawa Timur," berikut caption unggahan tersebut.

Kades Sumurgeneng, Gihanto membenarkan bahwa video pembelian mobil itu tengah viral. Menurutnya, video yang viral itu menunjukkan aksi pembelian 17 mobil secara bersamaan. Namun total mobil yang dibeli warganya mencapai 176 unit.

"Ya benar itu video yang viral. Itu pembelian mobil baru yang bersamaan oleh warga Desa Sumurgeneng sebanyak 17 unit. Tapi ada yang masih inden," jelas Gihanto saat dihubungi detikcom, Selasa (16/2/2021).

Menurutnya, belasan mobil baru itu datang secara bersamaan di desanya diangkut menggunakan truk towing. Bahkan, pengiriman mobil itu mendapat pengawalan dari pihak berwajib. Mobil yang mereka beli seperti Toyota Innova, Honda HRV, Honda Jazz, Mitsubishi Xpander dan Mitsubishi Pajero.


Sumber :

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5375936/viral-video-warga-satu-desa-di-tuban-borong-176-mobil-baru

Friday, January 15, 2021

Pesantren Perut Bumi

Pondok Pesantren di Perut Bumi Ada di Tuban

19 OKTOBER 2015

   


Sepintas gua itu terlihat tidak biasa. Orang pun bakal terkecoh andai tak membaca papan nama di mulut gua. Tertulis nama Pesantren Syekh Maulana Maghrobi. Tak disangka, gua batu ini adalah sebuah pesantren, tempat para santri belajar mendalami agama Islam. Saking uniknya, pesantren yang terletak di Dusun Wire, Desa Kedungombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ini lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Perut Bumi. 

Luas ponpes itu sekitar tiga hektare. Kedalaman bangunan ponpes di bawah tanah atau gua sekitar 20 meter. Menurut pendiri ponpes KH Subhan Mubarok, sebelum dibangun pondok areal ini adalah bekas tempat pembuangan sampah. Subhan mengaku membangun pondok ini tiga tahun lalu. 

"Setelah lama berkeliling mencari lokasi akhirnya saya menemukan tempat ini," tuturnya. Kini setelah dibenahi di dalam lingkungan pondok ada mesjid yang indah serta pertapaan yang disebut-sebut pertapaan asli. Uniknya lagi, santri di Ponpes Al-Maghribi kebanyakan mantan penjahat. 

"Banyak tamu dari luar negeri yang berkunjung ke tempat ini," kata Subhan. Usia Pesantren Perut Bumi memang masih terbilang muda. Pendaftaran secara resmi juga belum dibuka. Tak mengherankan, bila masih belum banyak santri yang mondok di sana. Walaupun ada santri memilih menetap, mereka adalah santri-santri yang datang perorangan atau yang sejak awal proses pembangunan pondok sudah terlibat. 

Adapun untuk mencapai ruang kelas, para santri ini harus melewati lorong-lorong sempit yang diapit batu-batu cadas. Celah sempit dan lorong-lorong gua ini saling berhubungan satu sama lain. Di dalamnya terdapat ruangan yang cukup luas untuk menampung ratusan santri. Tempat mereka mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan dari Kiai Subhan, pendiri dan pemimpin Ponpes Syekh Maulana Maghrobi. 

Sistem pencahayaan di gua pesantren ini cukup memadai. Selain dilengkapi sejumlah lampu neon, lubang-lubang di atap gua juga memberikan tambahan sinar, sekaligus ventilasi untuk sirkulasi udara. Beberapa kipas angin yang dipasang di atap gua pun membuat kondisi di dalamnya terasa cukup sejuk. Aktivitas ponpes ini tak ada bedanya dengan pesantren-pesantren lainnya. 

Hanya saja, seluruh kegiatan belajar-mengajar dilakukan di dalam gua, sesuai dengan namanya Pesantren Perut Bumi. Keberadaan Pesantren Perut Bumi ini tak lepas dari peran Abah Subhan--begitu K.H. Subhan Mubarak dipanggil. Pria berusia 59 tahun ini adalah seorang ulama yang pernah lama berguru kepada K.H. Abdullah Faqih, pengasuh Ponpes Langitan di Desa Wedangan, Kecamatan Widang, Tuban, Jatim.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2015/10/19/pondok-pesantren-di-perut-bumi-ada-di-tuban

Friday, December 18, 2020

Pantai Sowan

Pantai tempat wisata Tuban ini memiliki areal yang luas. Keunikan pantai Sowan adalah luasnya area yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. 

Pantai tempat wisata Tuban ini memiliki areal yang luas. Keunikan pantai Sowan adalah luasnya area yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Wisatawan yang bermain di pantai ini akan merasa lebih teduh akibat lindungan pepohonan yang berukuran besar.

Pohon yang tumbuh bermacam-macam jenis. Mulai dari pohon trembesi, klampis hingga mahoni. Ada juga pohon tapis yang menghasilkan buah seperti asam. Pohon-pohon tersebut sangat membantu dalam menghijaukan pemandangan di pantai ini.

Pengunjung yang ingin berjalan-jalan menyusuri hutan juga diperbolehkan. Menyusuri hutan ini termasuk kegiatan yang aman, karena terdapat jalan setapak kecil di sekitar hutan. Di dalam hutan pun tidak terdapat satwa liar sehingga memungkinkan untuk mengajak anak kecil.

Layaknya pantai pada umumnya, pengunjung pantai tempat wisata Tuban ini bisa berpiknik di sini. Pengunjung bisa membawa makanan dan tikar sendiri kemudian memulai piknik di atas pasir pantai yang putih. Biasanya disertai dengan bermain musik bersama teman dan anggota keluarga.

Berfoto di area wisata ini adalah aktivitas yang wajib dilakukan. Banyak tempat menarik yang bisa digunakan untuk berfoto.Ada sepeda gantung yang bisa digunakan sebagai ajang untuk berfoto. Selain itu ada juga karpet terbang yang unik dijadikan tempat berfoto.


Alamat: Bogoran, Bancar, Bogoran, Bogorejo, Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur

Tiket: 8.000

Jam Buka: 07.00-17.00


Sumber :

https://www.nativeindonesia.com/tempat-wisata-tuban/

Tuesday, September 1, 2020

Jalur Tol Bojonegoro Mengikuti Solo Valley

Rencana Pembangunan Jalan Tol Bojonegoro


Jalur Tol Bojonegoro Bakal Mengikuti Solo Valley

Rencana pembangunan jalan tol di Bojonegoro mulai dimatangkan. Beberapa kali pemerintah pusat telah turun lapangan dan terakhir mengecek lahan Solo Valley. Sesuai rencananya, jalur tol akan mengikuti jalur lahan Solo Valley.

Alasannya tak perlu melakukan pembebasan lahan, karena statusnya sudah tanah negara. ‘’Untuk tol, rencananya mengikuti jalur Solo Valley,’’ kata Kepala Bidang Reservasi I Balai Besar Peningkatan Jalan Nasional (BBPJN) Jatim-Bali, Sodeli kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. Sodeli menuturkan, pembangunan jalan tol di Bojonegoro itu bagian dari pengembangan wilayah Gerbang Kertasusila, meliputi Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan.

Sesuai rencananya, Solo Valley akan diintegrasikan sebagai sarana transportasi darat dengan dibangunnya jalan tol akan meminimalisir tumbuhnya hunian liar di sepanjang saluran. Dan dibangunnya rest area untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kemudian pada kanal Solo Valley dapat digunakan untuk transportasi air. Wisata air dan koneksi ke empat waduk yaitu Waduk Pacal, Gongseng, di Bojonegoro dengan Waduk Gondang dan Waduk Prijetan di Lamongan. ‘’Serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan karena menghubungkan Wilayah Pengembangan Strategis Gerbang Kertasusila dengan kawasan perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah seperti kawasan migas Blok Cepu dan Bandara Ngloram,’’ terang pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah itu.

Lahan Solo Valley, menurut dia, tanah peninggalan HindiaBelanda (1890-1948) sepanjang sekitar 120 kilometer. Lebarnya sekitar 150 meter melewati kabupaten Tuban, Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik. Saat itu, akan dimanfaatkan masyarakat pada zaman dahulu untuk irigasi. Serta pengendali banjir Sungai Bengawan Solo.

Aliran Solo Valley sekaligus pembangunan embung-embung untuk menunjang produktivitas pertanian. Pengaktifan Solo Valley, akan dimulai dari bangunan intake pengendalian banjir di hulu Bendung Gerak Karangnongko. Saluran pembawa searah dengan saluran induk irigasi Karangnongko Kanan, menyambung ke saluran Solo Valley di Desa Luwihaji Kecamatan Ngraho, Bojonegoro.

Rencananya sampai dengan Kabupaten Gresik sepanjang 165 kilometer. Lebar 150 meter, dan membentang ke timur di selatan Sungai Bengawan Solo, hilir menuju Kali Lamong sepanjang 130 kilometer dan lebar 150 meter. Wilayah administrasi studi Solo Valley berada di wilayah sungai Bengawan Solo hilir yang mencakup empat kabupaten.

Yaitu Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Menurut Sodeli, Solo Valley melintasi sekitar 20 kecamatan dan sekitar 117 desa. Tersebar di empat kabupaten, yaitu Bojonegoro,Tuban, Lamongan dan Gresik. Dalam dokumennya, Solo Valley dibangun sekitar 1930 bersamaan dengan pembuatan Waduk Pacal, di Kecamatan Temayang, Bojonegoro.

Dua sistem pengendali banjir ini merupakan hibah dari Ratu Belanda Wilhelmina. Lokasinya membentang di jalur selatan, mulai Sungai Bengawan Solo di Karangnongko, Kecamatan Ngraho, hingga ke Kecamatan Baureno di perbatasan Lamongan.

Data di Balai Besar Bengawan Solo (BBWS) menyebutkan lahan Solo Valley sekitar 15.000 kilometer persegi. Solo Valley di Bojonegoro meliputi Keca matan Ngraho, Padangan, Kalitidu, Nga sem, Purwosari, Dander, Ka pas, Sumberejo, Balen, Kepohbaru, dan Baureno.

Rerata lebar kanal itu antara 70 hingga 150 meter dengan keda laman 4 meter. ‘’Terakhir ada peninjauan di di Dusun Men deg, Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, ‘’ kata Camat Ngraho Saipurrokhim. Menurut dia, tinjauan itu untuk mengetahui batasan lahan masuk dalam kawasan Solo Valley.

Solo Valley bagian dari program pembangunan pengendalian banjir dan pembuatan jaringan irigasi semenjak zaman Pemerintah Hindia Belanda, membentang dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Dengan rencana desain baru Solo Valley, mendatang bermanfaat sebagai longstorage pengendali banjir yang secara berulang terjadi, tampungan air untuk irigasi dan air baku, mengatasi kekeringan di Kabupaten Bojonegoro, Lamongan dan Gresik. ‘’Tapi kami belum menerima rencana detailnya,’’ kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro M. Anwar Mukhtadlo.


Sumber :
https://radarbojonegoro.jawapos.com/read/2020/09/01/211645/jalur-tol-bojonegoro-bakal-mengikuti-solo-valley

Wednesday, July 22, 2020

Jalan Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM)


Mundur karena Pandemi, Tol Krian-Manyar Seksi I-III Tuntas September

Jumat, 26 Juni 2020

Gatot Sulistyo Hadi Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim mengatakan, jalan tol 29 kilometer itu sebenarnya ditarget rampung Juli besok.

“Berikutnya yang Bunder-Manyar (seksi IV) masih tahap pengukuran, masih diinventarisir kebutuhan tanahnya. Tapi jadi tidaknya masih tanda tanya,” kata Gatot, Jumat (26/6/2020) malam.

Jalan tol ini, kata dia, sebenarnya juga bersinggungan dengan tol Surabaya-Mojokerto. Namun untuk IC (interchange) dari KLBM ke Sumo belum tersedia.

“Sementara masih melalui saja, belum ada crossing dari KLBM ke Sumo. Itu (IC) juga akan dibangun tapi selesainya 2021. Sementara ini masih lurus saja,” ujarnya.

Untuk operasional jalan tol sendiri, Gatot bilang masih menunggu peresmian oleh Presiden. Biasanya, peresmian itu tidak lama setelah pembangunan selesai.

“Karena jalan tol ini juga dibutuhkan masyarakat, apalagi menunjang Jalan Cerme yang sedang diperbaiki,” lanjutnya.

Gatot melanjutkan, kalau pembangunan seksi IV Bunder-Manyar dilanjutkan, ruas tol ini akan menjadi cikal bakal yang akan diteruskan ke Tuban (Tuban-Manyar).

“Nanti juga akan ketemu dari Ngawi, Bojonegoro, Tuban. Ada juga yang mengusulkan Tuban-Lamongan-Bunder atau Manyar,” ucapnya.(den)


Sumber :
https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2020/mundur-karena-pandemi-tol-krian-manyar-seksi-i-iii-tuntas-september/


Tol Legundi-Manyar KLBM Bakal Lanjut Hingga Tuban

Sabtu, 27 Jun 2020 - 11 : 30 WIB

Ruas Tol KLBM yang ditarget beroperasi September bakal dilanjut hingga Tuban.

Proyek jalan tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM) seksi I sampai III yang menghubungkan Sidoarjo-Gresik bakal dilanjut hingga Tuban. Namun rencana itu menunggu penyelesaian pembangunan ruas KLBM yang ditarget September beroperasi.

Gatot Sulistyo Hadi Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim mengatakan, kalau pembangunan seksi IV Bunder-Manyar dilanjutkan, ruas tol ini akan menjadi cikal bakal yang akan diteruskan ke Tuban (Tuban-Manyar). “Nanti juga akan ketemu dari Ngawi, Bojonegoro, Tuban. Ada juga yang mengusulkan Tuban-Lamongan-Bunder atau Manyar,” ucapnya.

Namun rencana tersebut masih sebatas rencana. Sebab, menunggu penyelesian ruas KLBM sepanjang 29 kilometer ini. Setelah tuntas ruas KLBM tuntas, September mendatang, akan dilanjutkan KLBM seksi IV meliputi Bunder-Manyar (seksi IV) . “Saat ini untuk seksi IV masih tahap pengukuran, masih diinventarisir kebutuhan tanahnya. Tapi jadi tidaknya masih tanda tanya,” kata Gatot.

Jalan tol ruas KLBM ini, kata dia, sebenarnya juga bersinggungan dengan tol Surabaya-Mojokerto. Namun untuk IC (interchange) dari KLBM ke Sumo belum tersedia. “Sementara masih melalui saja, belum ada crossing dari KLBM ke Sumo. Itu (IC) juga akan dibangun tapi selesainya 2021. Sementara ini masih lurus saja,” ujarnya.

Untuk operasional jalan tol sendiri, Gatot bilang masih menunggu peresmian oleh Presiden. Biasanya, peresmian itu tidak lama setelah pembangunan selesai. “Karena jalan tol ini juga dibutuhkan masyarakat, apalagi menunjang Jalan Cerme yang sedang diperbaiki,” pungkasnya.


Sumber :
https://klikjatim.com/tol-legundi-manyar-klbm-bakal-lanjut-hingga-tuban/

Investor Kepincut Kilang Tuban RI

Ramai Investor Kepincut Kilang Tuban RI, Rusia Terpental? 14 September 2023 17:20 Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menk...

Related Post