Pages

Tuesday, October 17, 2017

Rumah Latsari Tuban Dijual

Latsari adalah kelurahan di kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Indonesia, yang berbatasan dengan Desa Sugihwaras, dan Kelurahan Kingking, dan Karangsari di sisi Utara, Lalu ada kelurahan Perbon disisi barat, sisi selatan ada kelurahan Sidorejo, dan sisi timur berbatasan dengan kelurahan Ronggomulyo.

Kelurahan Latsari cukup strategis. Misalnya dari segi infrastruktur pendidikan misalnya TK dan SD Hidayatun Najah, SD Bina Anak Sholeh atau biasa disebut BAS, Ada juga SDN Latsari Tuban, SMP Negeri 3 Tuban yang merupakan sekolah favorit bagi masyarakat Tuban.

Untuk infrastruktur olahraga, terdapat GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban yang sudah lama berdiri untuk menunjang infrastruktur olahraga masyarakat Tuban.

Kemudian untuk infrastruktur untuk kantor-kantor dinas dan pemerintahan, di kelurahan ini juga banyak yang didirikan disini. Untuk kantor dinas antara lain, Kantor Dishub, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata, Dinas Sosial dan Tenaga kerja, serta banyak lagi dinas-dinas yang berada di lingkup Kelurahan Latsari. Lalu untuk kantor Pemerintahan ada juga Kantor Kecamatan Tuban, DPRD Kabupaten Tuban.



Jika anda ingin tinggal di kota Tuban dan mencari area yang strategis, maka bisa dicari di area Latsari Tuban. Salah satunya adalah Perum Indah Latsari, jalan Kerinci blok K-8.






Data detail Properti :

    Tipe Properti : Rumah
    Tipe Iklan : Dijual
    Harga : Rp 760.000.000
    Sertifikasi : SHM
    Kamar Tidur : 3
    Kamar Mandi : 2
    Luas Tanah : 154m²
    Luas Bangunan : 75m²
    Jumlah Lantai : 1
    Garasi : 1


Sumber :
https://www.urbanindo.com/properti/rumah-dijual-tuban-bebas-banjir-835008889
https://id.wikipedia.org/wiki/Latsari,_Tuban,_Tuban

Sunday, October 8, 2017

Moammar Emka


Moammar Emka lahir di Tuban, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 1974; umur 43 tahun). Moammar Emka adalah penulis puluhan buku. Namun buku tulisannya yang paling laris dan mengangkat namanya adalah "Jakarta Undercover".

Buku ini menceritakan sisi gelap kehidupan seks 'liar' yang ada di kota Jakarta. Buku ini juga mengalami cetak ulang sebanyak 55 kali dari 2003-2010. Selain itu juga dilakukan gubahan dalam bentuk bahasa Inggris dan Belanda yang dipasarkan di kota-kota besar Asia, dan Eropa, Buku tersebut juga telah mengalami cetak ulang beberapa kali.

Karya itu kemudian diangkat ke dalam cerita film layar lebar berjudul "Jakarta Undercover", dengan dibintangi Luna Maya, Fachry Albar, Lukman Sardi, Christian Sugiono, dan Fauzi Baadila yang diproduksi dan beredar 2006.

Emka menulis buku-bukunya dengan investigasi secara mendalam selama bertahun-tahun. Berbagai metode pun dia gunakan untuk mendapatkan informasi seperti pendekatan personal, clubbing, nongkrong bareng, curhat, sampai wawancara.

Buku tulisan Emka kebanyakan mengupas sisi seksualitas yang terjadi di masyarakat, seperti "Siti Madonna", "Jakarta Undercover 2 (Karnaval Malam)","Jakarta Undercover 3 (Forbidden City)", "Ade Ape Dengan Mak Erot?", "3 Cinta 2 Selingkuhan", dan "In Bed with Models".

Buku In Bed with Models dirilis pertengahan 2006 dan edisi revisinya dirlis akhir 2014, yang mengisahkan lika-liku sisi gelap para selebriti Indonesia dalam mencari 'pendapatan tambahan' dengan 'menceburkan diri' dalam transaksi seks kelas atas.

Selain itu, Emka juga menulis beberapa novel adaptasi film seperti "Tentang Dia", "Love", "Maaf Saya Menghamili Istri Anda", "Love is Cinta", "Sang Dewi", dan "Slank Nggak Ada Matinya". Tak ketinggalan, Emka juga menulis buku-buku bergenre romantis seperti "Beb Aku Sakau", "Cinta Daur Ulang", "Cinta Itu Kamu", "Dear You", I DO, dan "Dear You Again".

Selain menulis, Emka juga pernah tampil sebagai cameo di film "Koper" garapan sutradara Richard Oh, "Novel Tanpa Huruf R" dengan sutradara John de Rantau, "Claudia Jasmine" sutradara Awi Suryadi dan tiga film: "Cinta Brontosaurus", "Cinta Selamanya", "Gangster" yang disutradarai Fajar Nugros. Saat ini, Emka juga aktif di televisi dengan menjadi nara sumber untuk acara-acara yang bertemakan selebritas dan gaya hidup.

Melalui Grafent Pictures yang bekerjasama dengan Demi Istri Production, Emka merilis film Moammar Emka's JAKARTA UNDERCOVER pada 23 Februari 2017 yang disutradarai Fajar Nugros. Emka sendiri bertindak sebagai Eksekutif Produser.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Moammar_Emka
http://lirik-lagu-dunia.blogspot.co.id/2015/04/lirik-lagu-permisi-moammar-emka-ost-i.html

Koes Plus

'Koesyono' Koeswoyo lahir di Tuban, Jawa Timur pada tanggal 27 September 1940 adalah anggota band legendaris Indonesia, Koes Plus yang sebelumnya bernama Koes Bersaudara.

Yon Koeswoyo adalah anak keenam dari sembilan bersaudara anak dari pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini asal Tuban Jawa Timur. Urutannya adalah :

    No.1. Tituk (perempuan), meninggal waktu bayi.
    No.2. Koesdjono (Jon alias John Koeswoyo)
    No.3. Koesdini (Dien ~ perempuan),
    No.4. Koestono (Ton alias Tonny Koeswoyo),
    No.5. Koesnomo (Nom alias Nomo Koeswoyo),
    No.6. Koesyono (Yon alias Yon Koeswoyo),
    No.7. Koesroyo (Yok alias Yok Koeswoyo),
    No.8. Koestami (Miyi ~ perempuan),
    No.9. Koesmiani (Ninuk ~ perempuan).

Dari silsilah keluarga, mereka termasuk generasi ke 7 keturunan (trah) Sunan Muria di Tuban. Ibu mereka adalah keponakan dari Bupati Tuban pada zaman penjajahan Belanda saat itu.

Masa kecil Yon dilalui di kota Tuban, Jawa Timur bersaudara saudara-saudaranya. Tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta mengikuti mutasi Sang ayah berkarier hingga pensiun sebagai pegawai negeri di Kementrian Dalam Negeri.

Yon Koeswoyo mulai aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara kandungnya keluarga Koeswoyo yakni : (Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, Nomo Koeswoyo pada drum, Yon Koeswoyo pada vokal, dan Yok Koeswoyo pada vokal) dan seorang dari luar keluarga Koeswoyo yang bernama Jan Mintaraga sebagai gitaris awalnya.

Pada mulanya mereka menamakan grup ini Kus Brothers pada tahun 1958. Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twin, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini meniru pola Everly Brothers di Amerika, karena menggunakan 2 penyanyi kakak beradik yakni Yon dan Yok.

Mereka merekam album pertama pada tahun 1962. Setelah Jan Mintaraga mengundurkan diri, grup ini berganti nama menjadi Kus Bersaudara pada tahun 1963.

Beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun mengundurkan diri, sehingga menyisakan 4 personel kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Grup ini kemudian kembali mengganti namanya menjadi Koes Bersaudara.

Dalam formasi yang baru ini Yon tetap sebagai penyanyi utama disamping memegang alat musik rhythm gitar, disamping adiknya Yok yang juga masih menjadi penyanyi dengan memegang alat musik bass gitar.

Yon memang sejak awal diproyeksikan oleh Tonny untuk menjadi vokalis karena memiliki suara yang bagus. Karena itulah ia tak pernah secara khusus diajari oleh Tonny untuk memainkan alat musik gitar. Kemampuannya bermain gitar dipelajarinya sendiri secara otodidak dengan mengamati permainan gitar abangnya Tonny.

Grup ini meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965.

Yon dimasukkan satu sel bersama saudara-saudaranya, Tony, Nomo, dan Yok. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu karena dianggap musik yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia pada tahun 1965.

Namun Sebenarnya Pemenjaraan ini bertujuan untuk persiapan Bela Tanah Air saat terjadinya perselisihan dengan malaysia, saat presiden Soekarno menyatakan ganyang malaysia lewat seni permusikan. Pada Awalnya untuk dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, Bahkan Malaysia. Namun sebelum sempat dikirim untuk bela negara lewat permusikan, pemerintahan Soekarno telah lengser.

Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI) dan tidak jadi dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, dan Malaysia. Selepas itu karier bermusik mereka kembali berjalan.

Meski meraih kesuksesan dalam bermusik, namun kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan ekonomi. Abangnya Nomo Koeswoyo berinisiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum pada tahun 1969.

Ia memilih berusaha sampingan di luar bidang musik sebagai pedagang untuk menghidupi keluarganya. Oleh Tonny Koeswoyo, Nomo disuruh memilih untuk fokus pada musik di Koes Bersaudara atau keluar. Nomo bersikap lebih pragmatis dan memiliki prinsip yang berbeda dengan sang kakak, karena saat itu ia telah menikah dan telah memiliki 1 orang anak.

Posisi drummer yang ditinggalkan Nomo Koeswoyo kemudian digantikan oleh Kasmuri (dikenal dengan panggilan Murry). Masuknya Murry adalah rekomendasi dari Yon kepada Tonny. Yon dikenalkan kepada Murry lewatnya temannya Tommy Darmo.

Oleh Tonny, posisi Yok kemudian diganti dengan Adji Kartono atau biasa disingkat Totok AR (Totok Adji Rahman). Yon tak mempermasalahkan Tonny merekrut Murry dan Totok AR menjadi anggota band di luar keluarga Koeswoyo.


Tonny pun kemudian mengubah nama bandnya menjadi Koes Plus. Meski terseok-seok dalam keterbatasan finansial dan harus menyewa alat musik, mereka berhasil mengeluarkan album Koes Plus volume I "Dhag-Dheg Plas". Dalam formasi band ini Yon tetap berperan sebagai vokalis utama.

Namun pada album kedua Koes Plus, adiknya Yok mengubah pikirannya dan bersedia bergabung dalam Koes Plus sebagai pemain bass dan backing vokal mendampingi Yon. Dalam album II ini nama Koes Plus mulai dikenal. Koes Plus perlahan meraih kepopuleran dan mulai menjadi raja di kalangan band nasional.

Nama Koes Plus mulai dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu "Derita" serta "Manis Dan Sayang", "Senja", "Cintamu Telah Berlalu" dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970.

Saat itu Yon bersama Koes Plus tampil bersama band Panbers dan beberapa band sohor lainnya seperti The Candies, band Bhajangkara,dan The Rhadows. Saat itu lagu-lagu Koes Plus mulai dipengaruhi warna sweet sound ala Bee Gees dan The Cats. Yon Koeswoyo sendiri bahkan tiba-tiba berupaya menghasilkan vibra seperti halnya Barry Gibb dari Bee Gees.

Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung, menggelegak, dan merajai industri musil Indonesia. Terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco.

Dalam catatan pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.

Periode 1970-an seolah menjadi era mereka. Lagu-lagu mereka hits di tangga lagu Indonesia, dinyanyikan semua umur, seperti "Bujangan", "Muda-Mudi", "Kembali ke Jakarta", dan lainnya. Bahkan group ini berhasil merilis lebih dari 100 album berbagai jenis aliran musik seperti Pop, Dangdut, Melayu, Keroncong, Jawa, Folksong, Rock, Bosanova, Qasidah, Rohani Natal, Pop Anak-anak, dsb.

Lagu-lagu mereka banyak yang menjadi hits yang melegenda sepanjang masa hingga saat ini. Mereka juga menjadi bintang iklan beberapa produk: minuman ringan F&N, mobil Toyota Kijang, sampul buku tulis, dsb.

Dalam Koes Plus, suara Yon memang dominan meski Yok, Tony, dan bahkan Murry juga tampil sebagai penyanyi. Vokal Yon mendominasi pada sebagian besar lagu kondang Koes Plus seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Diana, Hidup Yang Sepi, dsb.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Yon_Koeswoyo

Kisah Ranggalawe

Ranggalawe atau Ronggolawe merupakan tokoh penting di balik berdirinya salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, Mahapahit. Dimana Ranggalawe adalah pengikut setia Raden Wijaya. Dia ikut berjuang untuk mendirikan kerajaan terbesar di Pulau Jawa dan termasyur di seluruh Nusantara itu.

Ronggolawe merupakan anak dari seorang tokoh Singosari yang memiliki reputasi cukup moncer di zamannya, yaitu Arya Wiraraja. Dia berhasil menduduki jabatan terhormat di kerajaan sebagai penasehat pemerintahan pada usianya yang tergolong masih muda.

Arya Wiraraja yang memiliki jabatan Demung Nyapati (Rakyan Demung) atau jabatan tinggi negara yang dekat denga raja ini mendapatkan mandat dari pemerintahan Singosari untuk menjadi Bupati Songenep (Sumenep), di pulau yang menjadi tanah kelahiran Arya Dhikara, Pulau Madura.

Dari kecil hingga remaja, Arya Dhikara tumbuh berkembang di pulau penghasil garam tersebut dan pada saat usianya sudah menginjak dewasa, dia diutus oleh ayahnya untuk membantu Sri Rajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya, membuka Hutan Tarik di sebelah barat Sidoarjo untuk dijadikan sebuah desa dengan nama Majapahit.

Beberapa saat setelah membantu Raden Wijaya membuka lahan, tentara Mongol yang dipimpin Shihpi, Kau Hsing dan Ike Mese berjumlah sektar 20 ribu orang menyerbu Pulau Jawa untuk membalas perlakuan pemerintahan Kartanegara terhadap utusan Kubilai khan, Meng Ki.

Kedatangan pasukan Tar-tar ini ternyata dimanfaatkan oleh Raden Wijaya dan Arya Wiraraja untuk memerangi Jayakatwang yang dipimpin Raja Glanggang dari Kediri. Setelah berhasil menggunakan ‘bantuan’ dari pasukan Tar-tar, Kediri akhirnya berhasil di kalahkan dan secara tiba-tiba pasukan Raden Wijaya dan Arya Wiraraja serta Arya Dhikara berbalik menyerang bala tentara luar itu. Setelah tentara Tar-tar terusir dari pulau Jawa, pada tahun 1293, Majapahit resmi diplokamirkan menjadi sebuah kerajaan.

Atas jasanya itu, Arya Dhikara dinobatkan sebagai penguasa sebuah daerah di pinggiran Pulau Jawa yang juga merupakan pelabuhan utama di Jawa Timur dan kini dikenal dengan nama Tuban. Selain itu, Raden Wijaya juga memberikan gelar kehormatan kepada Arya Dhikara, yaitu Ranggalawe karena berhasil mengumpulkan pasukan kavaleri dengan kekuatan 700 personil.



Menurut pakar sejarah, Ranggalawe sendiri merupakan gabungan dari 2 kata, yaitu Rangga yang memiliki artian ksatria atau pegawai kerajaan, sedangkan Lawe merupakan sinonim dari wenang, benang atau menang yang artinya kekuasaan atau kemenangan. Jadi jika keduanya digabung akan memiliki artian ksatria pemenang.

Konon Ranggalawe dikuburkan di sebuah tempat yang berada di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban. Sekitar 400 Meter dari kompleks Wisata Religi makam Sunan Bonang. tempat tersebut merupakan areal pemakaman Islam, namun pada saat itu, Ronggolawe beragama Hindu. Cerita lain menyebutkan bahwa jasadnya dibakar dan abunya dilarung di Laut Jawa.

Masyarakat Tuban tetap menghormati Ranggalawe sebagai tokoh besar dan pahlawan. Bahkan di Tuban, ada banyak sekali patung dan monumen yang didirikan untuk menghormati dirinya serta penggunaan ciri khas Ranggalawe yaitu kuda hitam sebagai lambang Tuban.


Sumber :
http://www.orangdalam.com/kisah-ronggolawe/5402

Lagu Tombo Ati ciptaan Sunan Bonang

Sunan Bonang pernah dicegat gerombolan begal. Yaitu oleh Kebondanu Sunan Bonang juga pernah dicegat oleh Berandal Lokajaya. Baik Kebondanu dan Berandal Lokajaya kemudian menjadi pengikut setia dan santri yang taat.

Lokajaya adalah putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta yang melawan kemewahan hidup sebagai anak pejabat. Dia layaknya seorang ‘robin hood’ Jawa, karena hasil rampokannya dia bagikan kepada rakyat miskin.

Berandal Lokajaya bernama asli Raden Said. Di kemudian hari Lokajaya dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Tombo Ati merupakan lagu rakyat yang dibuat oleh Sunan Bonang. Menurut cerita sejarah Sunan Bonang, yang hidup sekitar abad ke 16, lagu Tombo Ati ini merupakan lagu popular di pesantren dan dikalangan rakyat, selain karena mudah didendangkan juga mudah dalam menghapalkan.

Sebagai seorang pendakwah Sunan Bonang (1465-1525) terkenal telah menginsyafkan muridnya seorang “perampok budiman” bergelar Brandal Lokajaya. Si murid ini kemudian lebih sering disebut dengan sunan Kalijaga, dalam sejarah raja-raja Jawa.

Tombo Ati (Obat Hati) adalah nama sebuah sajak berbahasa Arab ciptaan sayyidina Ali, yang oleh KH. Bisri Mustofa dari Rembang (ayah KH. A. Mustofa Bisri) diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan judul tersebut

Lagu ini pun pernah dipopulerkan kembali oleh Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjeng dengan perubahan dalam pembawaan, baik melodi, kemasan, dan beberapa penambahan lirik.

Kemudian di tahun 2005 tombo ati dipopulerkan kembali oleh Opick, seorang penyanyi religius dengan kategori yang lebih pop. Dan usahanya tidak sia-sia dalam mempopulerkan lagu rakyat tersebut.


Bait-bait syair dari tembang “Tombo Ati” ini menggunakan bahasa Jawa yaitu:

“Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani”

Tembang ini berisi nasihat kepada kita, supaya hati kita selalu tenang dan selalu dekat kepada-Nya, ada lima resep yang harus kita laksanakan dalam mengarungi kehidupan ini. Lima resep ini juga sangat baik untuk dilaksanakan sekarang ini, terutama sebagai “obat penawar” dari berbagai luka yang sedang menimpa bumi pertiwi ini.

Kelima resep itu adalah :
1. Baca Qur’an dan maknanya.
2. Sholat malam dirikanlah
3. Berkumpul dengan orang soleh
4. Perbanyaklah berpuasa
5. Dzikir malam perpanjanglah


Sumber :
http://wiprasio.blogspot.co.id/2013/07/asal-usul-lagu-tombo-ati.html
https://www.dream.co.id/dinar/sunan-bonang-pencipta-tembang-tombo-ati-150330z.html
https://risestar.wordpress.com/2010/02/06/makna-lagu-tombo-ati-sunan-bonang/
http://jnukmi.uns.ac.id/portfolio-item/tombo-ati-iku-ana-lima/#.WdsHLTAxXIU

Sunan Bonang


Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua.

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Bonang
http://azimatkalam.blogspot.com/2016/11/sunan-bonang-raden-maulana-makdum.html

Kota Tuban dan Walisongo


Kota Tuban menjadi salah satu pusat penyebaran Agama Islam oleh para Walisongo, dimana agama Islam mulai masuk ditanah Jawa pada permulaan abad ke XV. Diantaranya adalah

1. Maulana Malik Ibrahim menetap di Laren (kurang lebih 6 pal dari Gresik). Wafat tahun 1419 dan dimakamkan di Gresik.

2. Raden Rahmat anak dari Raja Campa (putri lain dari Raja Campa yaitu Dwarmawati kawin dengan Brawijaya, dengan demikian pernah paman R. Rahmat) Raden Rahmat menetap di Ampel (Surabaya) (dan mendapatkan nama Sunan Ngampel). Wafat tahun 1467 dan dimakamkan di Ngampel.

3. Pangeran Paku, anak dari Putri Blambangan (dekat Banyuwangi) dan menetap di Giri. Wafat pada tahun 1483 dan dimakamkan di Giri.

4. Mahdum Ibrahim, Putra Raden Rahmat (Sunan Ngampel) menetap di Bonang (dekat Lasem) dan dinamakan Sunan Bonang. Dari Desa Pantai Bonang, beliau memperluas agama Islam kejurusan Tuban. Dapat dipercaya, sejarah yang menjelaskan bahwa beliau datang dari Tuban : Ibunya Ageng Manilo, kakak perempuannya Nyai Ageng Manyuro (Putri dari Sunan Ngampel) dan murid-murid lainnya lagi banyak dimakamkan di Tuban.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1486 dan dimakamkan di Bonang. Akan tetapi selanjutnya dipindah dimakamkan dalam Kota Tuban. Di dalam keterangan Dr. D.J.C. Schrieke, Sunang Bonang tidak disebut sebagai orang Islam yang pertama, tetapi sebagai imam (jauh sebelum beliau di Tuban telah ada orang-orang yang telah memeluk agama Islam). Ini dapat dibuktikan, dimana para Bupati Tuban, mulai Bupati Arjo Tejo, pada tahun 1460 telah memeluk agama Islam.

5. Sunan Drajat (masih Moenat) putra ke II dari Sunan Ngampel, menetap di Drajat (dekat Sedayu).

6. Sunan Kalijogo (R.M. Sahit) Putra Wilotikto Bupati Tuban dan kemenakan Sunan Bonang, menetap di Kalijogo dan dengan demikian dinamakan Sunan Kalijogo.

7. Syeh Nurudin Ibrahim Ibn Maulana Israel atau secara singkat dinamakan Syeh Ibn Maulana, menetap di Gunung Jati (dekat Cirebon) dan demikian dinamakan Sunan Gunung Jati.


Sumber :
http://apakabartuban.blogspot.co.id/2010/09/tuban-jaman-majapahit-hingga-sekarang.html
https://www.youtube.com/watch?v=GDfj-7OPtTM

Tanggal Lahir Kota Tuban

Tanggal 12 November 1293 merupakan hari jadi Tuban. Tanggal tersebut diambil dari pengakuan resmi Kerajaan Majapahit terhadap Kadipaten Tuban dengan melantik Raden Arya Ronggolawe sebagai Adipatinya (1293 M).

Dalam sebuah kitab kuno yang tertulis dalam bahasa jawa kawi, Serat Pararaton (Kitab Pustaka Raja) menyebutkan bahwa pada tahun 1293, Pantai Boom Tuban menjadi tempat pendaratan Pasukan Tar-tar dari Kerajaan Mongolia yang akan menyerang Kerajaan Kediri.


Kaisar Kubilai Khan mengerahkan bala tentara Tar-tar karena bermaksud menghukum Raja Kertanegara yang telah menghina dirinya dengan memotong telinga utusannya.

Jauh hari Raja Kertanegara sebenarnya telah tewas di tangan Prabu Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Namun Kubilai Khan tak mengetahuinya. Kedatangan pasukan Tar-tar ini dipengaruhi oleh Raden Wijaya, raja pertama Majapahit agar mau secara bersama-sama menyerang Kediri.

Akhirnya Kediri bisa dikalahkan oleh gabungan tentara Tar-tar dan pasukan Raden Wijaya. Pasukan Tar-tar yang sudah banyak kehilangan prajuritnya itu selanjutnya dengan mudah dipukul mundur oleh Raden Wijaya bersama wakilnya, Raden Ronggolawe.

Setelah Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit pada 12 November 1293 maka diangkatlah Ronggolawe sebagai Mantri Amancanegara (menteri luar negeri) dan Adipati Dataran (bupati) di Tuban. Sejak saat itu pulalah Pantai Boom ini menjadi pelabuhan niaga internasional, dan Tuban semakin dikenal di seantero Nusantara.


Sumber :
http://kabartuban.com/tuban-kota-lama-lebih-tua-dari-usianya/10266
https://www.jawapos.com/read/2017/08/28/153752/terinspirasi-era-majapahit-pedagang-bersatu-demi-tanah-air

Hubungan Kota Tuban dengan Majapahit

Pada zaman dahulu Tuban dijadikan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit.

Pada waktu Prabu Brawijaya ke VII atau Ongkowijoyo VII bertahta selaku raja di Majapahit, (raja-raja yang dahulu juga dinamakan Brawijaya), Tuban jadi andalan Majapahit. Prabu Brawijaya kawin dengan Dwarmawati Putri Prabu Campa, suatu kerajaan di Kamboja.

Pada waktu Brawijaya memerintah di Majapahit. Tuban merupakan bawahan dari padanya, di daerah Tuban berkuasa berturut-turut para Bupati, Aryo Randu Kuning, Aryo Bangah, Aryo Dandang Miring, Aryo Dandang Wacono, Aryo Ronggolawe, Aryo Sirolawe, Aryo Wenang, Aryo Leno, dan Aryo Dikoro, yang menurut sejarah memerintah sejak tahun 1200

Majapahit didirikan oleh seorang pangeran dari Pasundan, yang bernama Jaka Sesuruh atau Raden Tanduran. Ibu Jaka Sesuruh konon kelahiran Tuban, dan kakak laki-lakinya bernama Arya Bangah yang kelak menjadi pejabat di Tuban.


Hubungan antara Tuban dan kota kerajaan di pelosok Jawa Timur, Majapahit, memang ada dalam sejarah. Jalinan hubungan itu, pada abad ke-15 dan 16, dan bahkan sebelum itu, benar-benar ada. Obyek Wisata Pantai Boom dahulu menjadi lokasi pendaratan pasukan Tartar

Ada beberapa alasan untuk percaya akan adanya hubungan antara Pasundan dan Jawa Timur. Pada zaman dulu, mobilitas rakyat baik di wilayah kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur maupun di laut sepanjang pesisir utara mulai tumbuh lebih besar daripada masa kemudian.

Di masa itu, para pejabat tidak mau lagi melepaskan para petaninya demi menjamin masuknya hasil panen tahunan secara teratur.

Posisi dinasti Ranggalawe di Tuban cukup penting. Ayah Ranggalawe, Dandang Wacana, pergi ke Bali untuk mengambil Putri Bali bagi Raja Majapahit, Raden Wijaya. Putri Bali ini kelak menjadi nenek ratu Majapahit yang kemudian dikenal dengan nama Ratu Kenya.

Ranggalawe sendiri dan putranya adalah pahlawan keraton Ratu Kenya dalam peperangan melawan Adipati Blambangan, Menak Jinggo, yang meminang dia. Ranggalawe menjadi pahlawan dalam balada-balada klasik sejarah di Jawa Timur, yang disusun pada abad ke-15 atau sesudahnya. Ranggalawe hidup sekitar tahun 1300, dan merupakan teman seperjuangan sang pangeran pendiri Majapahit.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tuban
https://jawatimuran.net/2013/05/14/sejarah-dan-legenda-kabupaten-tuban/
http://apakabartuban.blogspot.co.id/2010/09/tuban-jaman-majapahit-hingga-sekarang.html

Sejarah Kota Tuban


Sejarah dapat digali dengan data pendukung untuk penelusuran mengenai Tuban sebagai desa atau wilayah yang setingkat dengan kabupaten dengan sumber tertulis. Sumber tertulis tersebut diantaranya berupa prasasti seperti Prasasti Kambang Putih, Prasasti Malengga, Prasasti Banjaran, Prasasti Tuban.

Sumber tertulis lainnya adalah mengenai berita tentara Tar Tar dibawah pimpinan komando Sih-pie, Kau Sing dan Ike Messe, sebagian mendarat di Tuban dan sebagian meneruskan ke Sedayu. Dengan bantuan Raden Wijaya, tentara TarTar dapat mengalahkan Jayakatwang dari Kediri dan pada akhirnya tentara Tar-Tar dapat di hancurkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Arya Wiraraja dari Sumenep. Setelah hancurnya tentara Tar-Tar, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Mojopahit dengan gelar Sri Kertajasa Prawira.

Dan sumber tertulis terakhir adalah berita luar negeri, yaitu berita Cina tentang uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Shing Lan. Ma Hua adalah orang Tionghoa yang beragama Islam, yang mengiringi perjalanan Cheng Ho dalam perjalanan ke daerah daerah lautan selatan (1413 M–1425 M).


Sumber :
https://betulcerita.blogspot.co.id/2016/07/asal-usul-kota-tuban-jawa-timur.html

Asal Usul Kata Tuban

Kota Tuban memiliki asal usul dalam beberapa versi, yaitu diantaranya

Versi Pertama
Dari lakuran watu tiban (batu yang jatuh dari langit), yaitu batu pusaka yang dibawa oleh sepasang burung dari Majapahit menuju Demak, dan ketika batu tersebut sampai di atas Kota Tuban, batu tersebut jatuh dan dinamakan Tuban.

Versi Kedua
Arti kata Tuban berasal dari kata bahasa jawa “meTU BANyune” yang berarti “keluar airnya”. Orang Jawa sering membuat dua kalimat atau lebih menjadi lebih pendek. Dua kata “meTU BANyune” disingkat menjadi satu kata yaitu “Tuban”.

Orang jawa memang menyukai hal-hal yang singkat dan mudah dalam menyebut sesuatu. Mereka tidak menyukai kata-kata yang ruwet atau panjang. Hal ini tentu saja sangat baik mengingat satu kata lebih mudah diucapkan dan diingat daripada kata yang lebih panjang.

Pada jaman itu (masa kerajaan Majapahit), terdapat sebuah tempat yang masih berupa hutan lebat dan belum begitu dikenal masyarakat. Sebuah sejarah menyebut bahwa tempat ini awalnya adalah sebuah belantara yang disulap menjadi tempat hunian. Orang yang pertama kali membuka hutan dan menemukan tempat ini sangat heran dengan adanya begitu banyak sumber air. Tak hanya sumber air yang melimpah ruah, ditempat ini banyak ditemukan tempat-tempat yang mengeluarkan sumber air baik itu yang besar maupun yang kecil. Di berbagai tempat, air memancar begitu deras tanpa perlu menggalinya.

Lakuran dari metu banyu berarti keluar air, yaitu peristiwa ketika Raden Dandang Wacana (Kyai Gede Papringan) atau Bupati Tuban yang pertama membuka hutan Papringan dan anehnya, ketika pembukaan hutan tersebut keluar air yang sangat deras. Hal ini juga berkaitan dengan adanya sumur tua yang dangkal tetapi airnya melimpah, dan istimewanya sumur tersebut airnya tawar padahal berada di dekat pantai. 

Versi Ketiga
Tuban berasal dari kata "tuba" atau racun yang artinya sama dengan nama kecamatan di Tuban yaitu Kecamatan Jenu.



Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tuban
http://www.tubancity.com/sejarah-dan-arti-kata-kota-tuban.html

Kabupaten Tuban


Kabupaten Tuban terletak di Jawa Timur tepatnya di Pantai Utara Jawa Timur. Kabupaten Tuban memiliki jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa ini terdiri dari 20 kecamatan. Kabupaten Tuban berada di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan dilintasi oleh Jalan Nasional Daendels di Pantai Utara.

Luas wilayah Kabupaten Tuban adalah sekitar 183.994.561 Ha, dan memiliki wilayah laut seluas 22.068 km2 dengan panjang wilayah pantai 65 km. Ketinggian daratan di Kabupaten Tuban bekisar antara 0 - 500 mdpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tuban beriklim kering dengan kondisi bervariasi dari agak kering sampai sangat kering.

Kabupaten Tuban berada pada jalur pantura dan pada deretan pegunungan Kapur Utara. Tuban juga dilalui oleh Sungai Bengawan Solo yang mengalir dari Solo menuju Gresik.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tuban

Investor Kepincut Kilang Tuban RI

Ramai Investor Kepincut Kilang Tuban RI, Rusia Terpental? 14 September 2023 17:20 Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menk...

Related Post